Mencari Hidayah Tuhan: Berhijrah MENUJU Jalan ALLAH# Buku Pedoman Hijrah
SINOPSIS
Allah selalu
memberi hidayah kepada siapa saja yang berusaha mencari kebenaran. terinspirasi
dari kisah nabi Ibarhim mencari tuhan. Ada banyak pelajaran berharga yang bisa
kita petik dari kisah perjalanan intelektual dan spiritual Ibrahim a.s
tersebut. Hendaklah manusia selalu dan
terus berusaha mencari ilmu dan kebenaran. Nabi Ibrahim a.s. sekalipun calon
nabi dan rasul Allah, yang sekiranya dia tidak berusaha mencari Tuhan pun,
Allah pasti akan menurunkan petunjuk dan hidayah kepadanya. Akan tetapi, Ibrahim as. tidak berdiam diri,
menunggu datangnya hidayah, ia terus berusaha mencari kebenaran
hingga datangnya hidayah tuhan.
full pdf googlebook;
https://online.fliphtml5.com/eqfzo/tvtk/
Begitulah,
hendaknya manusia dalam menempuh proses belajar serta pematangan intelektual
dan spritualnya. Mulailah dari hal-hal yang kecil dan sederhana untuk kemudian
beranjak menuju yang lebih komplek dan sempurna. Hendaklah manusia selalu
berhijrah ke arah yang lebih baik dalam menjalani kehidupannya. Karena Ibrahim
a.s. beranjak dari memperhatikan bintang yang lebih kecil, redup kemudian bulan
yang lebih besar dan terang, kemudian matahari yang sangat terang dan besar.
Hendaklah manusia selalu mengarah dari gelap menuju yang lebih terang. Dari
yang kecil menuju yang lebih besar, dari kebodohan menuju kecerdasan, Dari
kesesatan menuju hidayah tuhan. Buku ini telah didesain bagi mereka yang ingin
mencari petunjuk dan kebenaran. Dengan menelaah, mengkaji dan mengamalkan isi
kandungan sehingga dapat menjemput hidayah yang dinanti-nantikan.
ANDA bisa mendapatkan file PDF melalui : abdurrahimharpy@gmail.com
atau watsab
+60183758751
KATA PENGATAR
Hotmatua Paralihan, M. Ag
Dosen Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam
“Mencari Hidayah Tuhan”
Secara objektif Abdurrohim Harahap ini pantas
disebut sebagai intelektual muda yang produktif dan memiliki tanggungjawab
terhadap persoalan umat Islam Saat ini. Alasan yang dapat dikemukakan, ada beberapa tulisannya yang sudah terbit,
dan karya ini lahir ditengah-tengah kesibukannya sebagai Mahasiswa Program S-2
di University Malaya Kuala Lumpur dan keaktipannya diberbagai organisasi dan
kegiatan pendidikan Islam lainnya. Dengan munculnya intelektual muda Islam
seperti ini, hemat saya, umat Islam secara keseluruhan harus bersyukur kepada
Allah SWT, karena telah lahir sejarah masa depan, menambah keyakinan kita semua
akan muncul tokoh pemikir Islam dimasa yang akan datang.
Tulisan ini penting dilihat dari sudut zamannya,
dimana pada saat ini, kebanyakan manusia lebih sibuk menata diri yang
berhubungan dengan fisik; seperti penataan rumah, perabot, pakaian, muka, gigi,
lipstick, pemakain sepatu atau penampilan lainnya yang bersifat materi. Saya
melihat, penulis buku ini terlihat secara cerdas memahami persoalan zaman ini
secara tepat, sehingga muncul tanggungjawabnya sebagai seorang muslim dan
seorang intelektual muda merasa terpanggil dengan rasa tanggungjawab ikut untuk
menyumbangkan formulasi ajaran Islam dengan mengutip dasar-dasar ajaran
Al-Qur’an dan Hadist serta pendapat ulama, yang berhubungan dengan penataan diri
yang bersifat psikis, seperti penataan; keislaman, keimanan, keadilan,
keikhlsan, rasionalitas, emosionalitas (Kecerdasan, Intelektual, emosional, dan spiritual.
Niat penulis ini terlihat berusaha secara keras
dalam tiga warna dalam tulisan sekaligus yaitu, Pertama; bercorak filsafat. Beliau membuat analisisi yang rasional,
sistematis, sehingga dapat dipahami dengan logika namun tidak terlalu berat,
karena kadarnya tidak sampai memusingkan pikiran pembaca. Corak analisis itu terlihat pada penjelasan
sebab akibat dengan baik, seperti kalau niat tidak tepat maka tidak sampai
kemana-mana, kalau seseorang resah berarati dosa sudah membelenggu maka
bertaubatlah. Kedua, Corak
Tasauf, bagaimana mencintai Allah dan
langkah langkah ibadah mewujudkannya serta manfaat dari ibadah yang dilakukan. Ketiga, Corak berikutnya, terlihat
tanggungjawab beliau sebagai seorang cendikiawan muslim yang merasa terpanggil
untuk ikut mengajak dan menegakkan Amar
Ma’ruf Nahi Munkar.Tiga corak ini sangat kental dalam penulisan buku ini;
analisis, komunikatif dan dakwah. Semua pesan di atas, dipaparkan dengan corak
komunikasi yang baik, hal itu terlihat dalam penulisan, dasar-dasar agama (Al-Quran dan Hadist,
pendapat ulama) diikuti dengan percontohan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan metode itu tulisan ini dapat dipahami
hampir pada setiap lapisan maysrakat- pendidikan, pedagang, pemerintahan dengan
kemampuan sederhana. Misalnya pentingnya niat dalam sebuah tindakan. Penulis
ini secara cerdas menuliskan dasar pentingnya niat dalam hadist tetapi kemudian
menjelaskannya diikuti dengan permisalan “pengiriman surat tanpa tujuan yang
jelas”.
Bentuk lain yang cukup menonjol dalam buku ini
termasuk, kemampuan penulis menukilkan permasalahan social-peribadi,
rumahtangga, masyarakat umum bahkan bangsa-kemudian memberikan solusinya dengan
pendekatan syar’i ajaran Islam. Permasalahan itu diselesaiakan dengan
pendekatan Tasauf seperti, Taubat, Syukur, Melaksanakan Kewajiban dan Sunat,
zikir, penataan hati dengan menjauhkan segala yang merusaknya seperti iri,
dengki, hasad, takabbur, dusta dll, sekaligus menggambarkan manfaat yang
didapatkan oleh seseorang apabila dapat melaksanakannya.
Tiga corak penulisan dalam satu buku sekaligus
memastikan kita semua bahwa, pesan akan sampai kepada pembaca secara luas
dengan pemahaman yang tepat dan buku ini tidak mungkin lahir, tercipta kecuali
dari penulis yang cerdas dan kreatif dan memiliki rasa tanggungjawab keislaman
yang kuat, dalam Istilah seorang tokoh arsitektur revolusi Iran 1979 Ali
Syariati, menyebutkannya Raushan fikr, manusia
yang tercerahkan-memiliki kecerdasan dan rasa tanggungjawab sekaligus.
Demikainlah, penulis buku ini telah ikut berjihad
dalam menjelaskan Islam dengan baik,
semoga iklim kreatifitas ini dapat bertahan dan mudah-mudahan berkembang dan
ditingkatkan. Semoga buku ini
memberikan kontribusi penting dalam khazanah ke Islaman.
DAFTAR ISI
BAHAGIAN I
2. Hijrah 2 LANGKAH KECIL MENUJU SYURGA 15
3. Hijrah 3 ANGGAPLAH
HARI INI HARI TERAKHIRMU
20
4. Hijrah 4 KEBAIKAN
MENIMBULKAN
KETENANGAN
26
5. Hijrah 5 WAHAI
DIRI SADARLAH !!
42
6. Hijrah 6 AKU
MEMERLUKANMU KARENA AKU MENCINTAIMU
49
7. Hijrah 7 KUASAI
DUNIA TAPI JANGAN MENCINTAINYA
53
8. Hijrah 8 HARUSKAH MELAWAN TAKDIR ?
61
9. Hijrah 9 WALAUPUN DUNIA TAK ADIL TAPI ALLAH
MAHA ADIL
67
10. Hijrah 10 IKHLAS ITU BEBAS
72
11. Hijrah 11 SHOLATLAH MESKIPUN ENGKAU MAKSIAT DAN DOSA
81
12. Hijrah 12 BERHIJABLAH!!
MESKIPUN ENGKAU BUKAN WANITA BAIK
89
13. Hijrah
13
KATAKAN TIDAK PADA PACARAN
95
14. Hijrah 14 BERBUAT
BAIKLAH SEKECIL APAPUN KARENA ALLAH PASTI AKAN MEMBALASNYA
104
15. Hijrah 15 TANGGUNG
JAWAB SENDIRI
113
16. Hijrah 16 SALAHKANLAH DIRIMU SEBELUM ENGKAU MENYALAHKAN ORANG LAIN
118
17. Hijrah 17 JADILAH
HAMBA YANG BERSYUKUR
122
18. Hijrah 18 JANGAN
TERTIPU DENGAN
KESENANGAN DUNIA
128
19. Hijrah 19 JADI
PEMAAF ITU INDAH
134
BAHAGIAN II
20. Hijrah 20 JADILAH
HAMBA YANG PENUH SYUKUR
142
21. Hijrah 21 JAUHKANLAH
DIRI DARI HARTA YANG HARAM
148
22. Hijrah 22 SENANTIASA
MENJAGA UKHWAH
161
23. Hijrah 23 SENANTIASA
SALING MENASEHATI
169
24. Hijrah 24 KALAHKAN MUSUH BATINMU
181
25. Hijrah 25 DUNIA ADALAH ANCAMAN ATAU PELUANG
189
26. Hijrah 26 BERISTIQAMAHLAH
DALAM BERAMAL WALAUPUN HANYA SEDIKIT
197
27. Hijrah 27
MUHASABAH DIRI SENDIRI
206
28. Hijrah 28
TUGASKU SEBAGAI HAMBA ALLAH
213
29. Hijrah 29 KATAKANLAH YANG
BENAR MESKIPUN ITU PAHIT
224
30. Hijrah 30 MENCARI HIKMAH DIBALIK MUSIBAH
231
31. Hijrah 31 SIAPA YANG BERSUNGGUH- SUNGGUH PASTI
AKAN MENDAPAT
244
32. Hijrah 32 PENYAKIT HATI YANG HARUS DIHINDARI
253
33. Hijrah 33 OBAT HATI MENURUT ISLAM
263
34. Hijrah 34 RUMAH
TERAKHIR KU
275
35. Hijrah 35 YA
ALLAH AKU INGIN BERTAUBAT
282
36. MUNAJAT DAN LUAHAN HATIKU
299
Mukoddimah
s
|
egala puji bagi Allah SWT yang telah
menganugrahkan kepada kita nikmat Iman dan Islam. Segala puji bagi Allah SWT
yang juga telah memberikan Hidayah yang sangat berharga kepada kita semua
sehingga kita mampu dalam menjalankan segala perintahnya serta menjauhi
larangan-larangannya. Sholawat dan salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad
SAW, ahli keluarga, para sahabat, tabi’in dan bagi siapa saja yang mengikuti
jejak langkah mereka hingga akhir zaman.
Bagaimana hidayah
akan datang, jika kita tidak mengharapkan kedatangannya, bagaimana pula
ia akan datang sedangkan kita pun tidak berusaha untuk menjemputnya, kita pun
tidak akan dapat menjemputnya jika kita tidak berusaha untuk mencarinya.
Hidayah itu ibarat seekor kupu-kupu disebuah taman yang
indah, ia terbang kesana kemari mencari tempat yang indah. Jika kita
menginginkannya maka kita harus mengejar dan menangkapnya, karena ia tak akan
hinggap kepada kita yang penuh bau dan kotor.
Begitu juga halnya hidayah, ia tidak akan datang kepada
manusia yang penuh dosa, ia harus
dicari, dijemput dan dimilki. Oleh karena itu kita harus berusaha mencari dan
meraihnya, agar ia dapat mensucikan kita dari kotoran-kotoran dosa yang telah
kita perbuat.
Hidayah dapat menyadarkan akan kewajiban seorang hamba
kepada penciptanya, merubah prilaku yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya serta
mampu menjadikan manusia hina menjadi
mulia disisi makhluk dan penciptnya.
Dalam buku “Mencari Hidayah Tuhan“ ini akan menghimbau
kembali perinsip-perinsip dan nilai-nilai yang terdapat dalam kehidupan untuk
mengetahui betapa dengan “terus berusaha mencari hidayah tuhan” itulah yang
dapat membukakan jalan kepada sebuah perjuangan untuk kembali ke jalan Allah
SWT dan menabur bakti kebaikan kepada manusia lain dengan penuh keihklasan dan
ketulusan.
Keseluruhan kandungan adalah berdasarkan al-Qur’an sebagai
rujukan dalam memberi ilham, fakta dan rangsangan. Pengisiannya membimbing kita
untuk lebih mengenal kandungan dan makna kalam Allah SWT yang Ia turunkan
sebagai “ Hudan/ Hidayah” kepada manusia.
Buku ini sengaja ditulis dalam bentuk bab-bab guna untuk
memudahkan kita meneliti setiap harinya. Baca dan pahamilah dengan penuh
kesadaran agar dapat diamalkan dalam kehidupan, sebagai bentuk upaya dalam
mencari hidayah tuhan.
Segala pandangan adalah cetusan kesadaran yang lahir dari
usaha memahami dan mencari hakikat hidup yang sebenarnya, kebanyakan kita
memang telah memiliki pengetahuan. Namun pengetahuan memerlukan kesadaran
karena kesadaranlah yang dapat
mengantarkan manusia kepada Hidayah Allah SWT.
Buku ini bukan buku cerita pelepas lelah pengantar tidur.
Bukan bacaan hiburan. Bukan asal mengumpulkan dan menukilkan. Kami menggali
yang terpendam, merangkai yang tercecer, menyusun yang terbengkalai, merawat
yang dianggap remeh dan menyuguhkan menjadi “motivasi dahsyat” Insyallah.
Membaca sekedar untuk tahu tidaklah mencukupi. Tahu untuk
mengerti, itulah yang kita harapkan karena matlamat kita adalah kesadaran. Dan
kesadaran ibarat sumbu yang menyalakan kebenaran. Bacalah, bacalah, dan
bacalah. Bacalah dengan memahami dan mengerti. Itulah sebenarnya makna dari
“iqra.” Bacalah hingga memperoleh kesadaran. Bacalah sehingga berasa dekat
kepada Hidayah Allah SWT dan amalkanlah dengan penuh keihklasan. Semua manusia
rugi, kecuali yang berilmu. Semua manusia yang berilmu rugi, kecuali yang beramal.
Dan semua manusia yang beramal rugi, kecuali mereka yang ikhlas.
Semoga ada hati yang tergugah, ada jiwa yang tersadar, ada
kebuntuan yang terbuka, ada penyakit batin yang terobati. Jadilah petualang “
pencari” hidayah tuhan. Begitulah seharusnya kehidupan. Jangan terlena dengan
kenikmatan saat ini dan selalu berkata dalam hati “ aku akan berubah kalau
hidayah datang.” Ingatlah segala
sesuatu tidak akan datang dengan sendirinya, akan tetapi harus diawali dengan
usaha dan diakhiri dengan berdoa.
Salam kasih kepada pembaca
Abdurrohim Harahap
Bahagian
I
Berhijrah Karena Allah
Hijrah 1
PERMULAAN MENUJU
PERUBAHAN
...إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا
مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ
وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
...“Sesungguhnya Allah tidak merubah
keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada
diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan
terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak
ada pelindung bagi mereka selain Dia. “. (Q.S.Ar-Ra’du: 11 )
D
|
iantara manusia, ada yang cukup
dengan satu isyarat untuk mendapatkan petunjuk. Ada yang memerlukan penjelasan
dengan lemah lembut, ada yang tidak memperdulikan kecuali dengan teguran
dan kemarahan. Ada pula yang tidak
memerlukan itu semua, dan dia termasuk dalam golongan syaitan.
Setiap permulaan itu sifatnya dekat dan sederhana. Karena
itu banyak orang yang melakukannya. Ia seperti sebuah pena diatas meja yang
penuh dengan lembaran buku kosong, diambil dan digunakan untuk membuat sebuah coretan. Lalu berakhir dengan
bait-bait, puisi yang indah atau menjadi sebuah buku yang dibaca oleh ribuan
orang.
Perlu ada proses panjang sebelum sampai ke lembaran
terakhir. Berbagai masalah dan rintangan dihadapi untuk menyelesaikannya. Namun
yang pasti kita tidak akan bisa menyelesaikan lembaran terakhir jika seandainya
kita tidak sedikitpun memulai dilembaran pertama.
Setiap permulaan itu dekat dan sederhana, seperti satu
langkah awal yang berkhir dengan ribuan langkah, bahkan jutaan langkah yang
membawa kepada sebuah tujuan. Tujuan itu mungkin jauh, namun ia tetap berawal
dengan satu permulaan yang sangat dekat dan sederhana. Jika yang satu langkah
itu masih terasa berat, ringankanlah ia dengan setengah langkah. Tidak masalah,
yang penting mulailah melangkah. Hanya dengan cara itu kita berpeluang untuk
sampai pada akhir dan tujuan yang diharapkan.
Setiap permulaan itu dekat dan mudah untuk dilakukan. Ia
semudah memasang niat yang baik pada waktu pagi, yang membangkitkan semangat sehingga
pekerjaan selesai dan berakhir dengan senyuman ikhlas pada malamnya. Banyak
kesuksesan yang berawal dari niat yang sederhana, namun dilakukan dengan
sungguh-sungguh. Bahkan niat sangat menentukan apakah pekerjaan itu membawa kebaikan di dunia atau sampai ke akhirat.
Permulaan itu sederhana, sesederhana mengawali sesuatu yang
baik dengan mengucapkan bismillah. Tidak ada lidah yang tak mampu
mengucapkannya, walaupun sederhana tapi ia sangat berharga. Ia mampu membuka
pintu rahmat, menghalang tipu daya syaitan, mencukupkan segala kekurangan serta
mengandung keberkahan dari sebuah tindakan.
Mulailah dengan diri sendiri karena itulah yang paling
dekat. Setelah itu baru kepada keluarga, tetangga dan masyarakat. Tidak masalah
jika terasa sulit, setidaknya kita sudah memulainya untuk diri sendiri. Itu
sebuah permulaan yang baik, jika kita memulainya dengan orang lain bisa jadi
kita tidak berhasil. Jika berhasil pun itu milik orang lain sedangkan kita
tidak mendapatkan apa-apa.
Lihatlah kedepan, ke arah perubahan yang kita inginkan.
Namun jangan lupa untuk mengawalinya dengan langkah pertama. Tidak ada
seorangpun yang sampai ketempat yang ia inginkan hanya dengan satu langkah
saja. Banyak langkah yang harus dilewati, terkadang dalam melangkah banyak
sekali cobaan dan ujian, bahkan terkadang terjatuh dan tak berdaya. Jangan
menyerah, bangun dan hadapilah semua rintangan itu hingga sampai ke tempat yang
ingin dituju.
Perjalanan menuju sebuah perubahan yang besar memang panjang dan melelahkan,namun lupakan
untuk sementara waktu. Mulai saja dengan
yang dekat. Hidup kita pun ada tahapannya mulai dari A- Z . ikuti saja
tahapan-tahapan itu, jika kita sabar insyaAllah kita akan sampai juga. Mungkin
banyak rintangan yang harus kita lalui dalam perjalanan menuju Z, namun
kendatipun demikian semua itu tidak akan bisa kita lakukan jika tidak
memulainya dari A.
Sahabatku, mulailah dan jangan pernah menunda walau sesaat,
Allah SWT. tidak hanya melihat apa yang ingin kita dapatkan akan tetapi Allah
SWT juga ingin melihat usaha apa yang telah kita lakukan. Mulailah dengan hati
yang ikhlas, lakukanlah dengan kesabaran serta akhirilah dengan kesyukuran.
Hanya dengan itu yang dapat menghantarkan kita kepada keberhasilan dunia dan keberasilan akhirat.
MULAILAH DARI HATI
Ketuklah pintu hati jika pintu hati sudah terbuka semua
pintu-pintu lain akan ikut terbuka.Tempat terbaik untuk mengawali perubahan
adalah hati. Ini karena, hati yang baik akan menyebabkan anggota yang lain ikut
baik. Jika hati buruk, akan buruk pula semua anggota lainnya.
Begitulah besarnya pengaruh hati terhadap diri seseorang.
Al-Ghazali dalam kitab Ihya
‘Ulumuddin menyebutkan bahwa hati
adalah raja dan anggota tubuh lainnya adalah tentra yang mengikuti
setiap perintahnya. Jika raja itu baik,
maka baik pulalah tentranya dan jika rajanya buruk maka buruk jualah tentranya.
Setiap perbuatan ditentukan oleh hati. Oleh karena itu
pujuklah ia supaya menjadi baik. Rayulah ia supaya mau melakukan perbuatan yang
mulia. Beri ia dorongan sehingga mampu membawa diri kepada ketinggian dan
kesabaran. Paksalah ia untuk bertaubat dan berhijrah. Hanya hati yang bersih
yang mau menerima kebaikan dan kebenaran yang seterusnya dapat membawa
perubahan kepada diri sendiri.
Ketuklah pintu hati. Apabila ia terbuka, pintu kebaikan pun
akan terbuka. Mintalah pertolongan kepada Allah SWT. supaya pintu itu terbuka
sehingga terjadi perubahan-perubahan yang membawa kepada amal sholeh. Sangat besar pengaruh hati dalam diri.
Apabila ia sudah terbuka, pasti akan mencintai tujuannya ( Allah SWT ) dan
mencintai jalanya ( islam ) untuk sampai ke tempat tujuan itu. Yang mana cinta
itu akan menggerakan hatinya untuk melangkah dengan tanpa ada rasa malas dan
lemah.
Hati yang terbuka akan mampu merubah rasa benci menjadi
cinta, seperti Umar Bin al-Khattab yang awalnya sangat membenci Rasulullah
bahkan sampi ingin membunuhnya, tetapi kemudian berubah menjadi orang yang
paling mencintai Rasulullah dan mendukung perkembangan islam. Karena perubahan
hatilah yang membuat para sahabat –sahabat yang menentang rasulullah menjadi
hebat, nama mereka selalu disebut-sebut hingga kini.
Segala sesuatu yang dimulai dari hati, tentulah ia akan
menghasilkan hal-hal yang baik. Ia seakan menjadi panutan terpenting yang tidak
boleh kita abaikan begitu saja. Mendengar dan mengikuti setiap bisikan yang ia
perintahkan adalah jalan terbaik untuk menatap masa depan yang lebih baik.
Bukan dengan cara-cara yang mengedepankan hawa nafsu semata. Yang kapan saja
bisa merusak dan mencampur adukkan prinsip-prinsip kehidupan. Dan pada akhirnya
kita pun akan menyadarinya. Semua hanyalah fatamorgana yang menipu.
Karena itu, jangan terburu-buru dalam hal apa pun. lihat dan dengarlah apa kata
hati. Sebab, ia akan mengantarkan menuju jalan yang benar.
Hati yang berbolak balik dapat mengubah niat kita yang ingin
bertaubat dan mencari hidayah Allah SWT. Jauh di sudut hati kita, sebenarnya kita
selalu mencoba mengubah diri untuk menjadi lebih baik dan bertaubat kepada
Allah. Setiap kali kita mencoba untuk sholat lebih awal tapi bila waktunya
tiba, rasa malas pun menghampiri. Sehingga kita menangguh-nagguhkan pertemuan
dengan Allah SWT.
Tetapkanlah hati pada satu tujuan yang pasti. Arahkan ia
kepada kebaikan. Jangan biarkan ia terombang ambing tanpa arah dan tujuan. Karena ia akan menentukan jalan akhir dari
sebuah kehidupan. Apakah kehidupan itu bahagia atau malah sengsara. Jika kita
mampu mengendalikannya, sudah pasti kebahgaiaan yang akan kita dapatkan, tapi
jika tidak, maka kesengsaraanlah yang akan kita terima.
MULAI DENGAN NIAT KARENA
ALLAH SWT
Dari Umar
radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan
sesuai niatnya. (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Niat adalah sebuah potensi yang dapat menggerakkan dan
mewujudkan apapun yang kita inginkan, entah itu adalah kebaikan, kesuksesan dunia
akhirat, cita-cita mulia, kekayaan yang berkah, hubungan yang harmonis,
kedamaian bahkan kesehatan. Segala sesuatu tergerak dari niat. Dengan kuatnya
niat akan menggerakan pikiran dan tindakan ke arah tujuan yang kita inginkan.
Ada 3 cara membentuk kekuatan niat:
1. Diyakini dalam hati.
2. Diucapkan dengan lisan
3. Dilakukan dengan amal perbuatan.
Setiap orang mempunyai niat untuk berubah menjadi lebih baik
dan taat kepada tuhan-Nya. tapi sanyangnya sandaran niat setiap orang itu
selalu berbeda. Penyandaran niat sangat penting untuk kita tanamkan dari hati
yang paling dalam untuk mencapai apa yang kita inginkan dengan menyandarkannya
hanya kepada Allah SWT. Karena dengan demikian kita akan mendapatkan hasil di
dunia dan juga di akhirat.
Niat merupakan suatu permulaan yang penting. Orang yang
melakukan amal baik sekalipun, jika niatnya bukan karena Allah SWT. maka amalan
itu hanya bernilai dimata manusia, tetapi tidak bernilai sama sekali disisi
Allah SWT. Niat menjadi sebuah awalan dari seluruh perbuatan yang dilakukan
oleh manusia dalam setiap aktivitasnya. Jika dari pertama sebelum memulai,
berniat karena Allah, maka hasil yang akan didapatkan akan baik dan diridhoi
Allah pula, begitu pula hal sebaliknya.
Perubahan hanya dapat terjadi jika terdapat kekuatan yang
cukup besar untuk mulai menggerakkan roda perubahan. Kekuatan disini adalah
kekuatan niat karena Allah. Niat adalah komitmen untuk menetapkan
jalur yang akan dijalani sebelum mulai meletakan langkah pertama pada jalur
tersebut. Kekuatan tersebut sangat besar, karena itu tingkatkan kualitas niat
yang kita miliki hanya untuk mencari keridhoan Allah SWT.
Rasulullah SAW pernah menceritakan kisah 3 orang “pahlawan”
yang masing-masing disebut sebagai
mujahid ( orang yang berjuang dijalan Allah ), qari’ ( orang yang rajin dan
pandai membaca al-Qur’an, dan dermawan ( orang yang suka membantu orng lain).
Amal mereka sangat hebat, sehingga dikenal dengan amal yang istimewa itu.
Ketika 3 orang ini dibangkitkan pada hari akhirat dan ditanya dihadapan Allah
SWT. mereka mengaku semua amalan yang
telah mereka lakukan di dunia karena Allah. Tetapi Allah mengetahui rahasia
hati dan niat mereka, mereka melakukan itu semua karena hanya ingin dipuji oleh
manusia. Maka amal perbuatan mereka ditolak dan mereka dimasukkan kedalam
Nereka. ( H.R.Muslim ).
Jika awalnya tidak baik (niat), ,maka akhirnya pun tidak
akan baik ( akhirat). Mulailah semua perbuatan itu dengan niat karena Allah
SWT. mungkin hal itu kecil bagi kita, tapi nilainya besar disisi Allah SWT. ia memberi
nilai dari sebuah perbuatan yang dilakukan. Beberapa orang bisa saja melakukan
perbuatan yang sama, tetapi nilainya berbeda di sisi Allah SWT. dikarenakan niat mereka yang tidak sama.
Abdullah
bin al-Mubarak pernah berkata, “ amal perbuatan yang kecil bisa jadi besar
disebabkan niat dan begitulah sebaliknya.
Oleh karena itu, periksalah niat setiap saat dari waktu
kewaktu, pastikan ia menjadi sebuah permulaan yang mengandung nilai yang besar,
tidak hanya disisi manusia tapi juga disisi Allah SWT. Sekarang tanyalah diri
kita masing-masing sebelum memulai pekerjaan, apa niat kita yang sebenarnya?
Apakah niat kita karena Allah atau karena hal lain? Niat karena Allah itu akan
mengikat setiap pekerjaan dan dapat memberikan nilai padanya. Jangan sampai kita lelah bekerja,
namun semuanya sia-sia atau tidak ada nilainya di sisi Allah SWT. sebagaimana
yang tersirat dalam hadis nabi SAW:
Sesungguhnya
engkau tidak berinfak dengan infak untuk mencari keridhoan Allah SWT ( niat
karena Allah ) melainkan engkau diberi pahala karenanya, walaupun sekedar
sesuap nasi yang engkau suapkan kemulut istrimu. ( H.R.Bukhori ).
Niat karena Allah bukan hanya mendatangkan nilai kepada
perbuatan, tetapi juga dalam mewujudkan dorongan atau motivasi dalam suatu
pekerjaan. Jika niat karena Allah SWT pasti kita akan ikhlas dan semangat dalam
melakukannya.
Niatkanlah setiap pekerjaan kita semata-mata karena Allah
SWT. kita mungkin tidak sempat merasa hasilnya di dunia, tapi kita pasti
menerimanya diakhirat kelak. Begitulah pentingnya niat. Oleh sebab itu, orang
–orang sholeh bukan hanya berniat dalam perkara-perkara wajib dan sunnat,
bahkan dalam perkara yang harus sekalipun seperti makan, minum, berolahraga dan
lain sebagainya.
Orang yang mempunyai niat karena Allah, Allah akan memudahkannya
untuk mendapatkan apa yang ia niatkan. Jika diberi amanah pekerjaan, maka
berniatlah karena allah dalam menjalankan pekerjaan itu. Jika diberi peluang
menuntut ilmu di sekolah dan univesitas berniatlah karena Allah. Sekarang ini
sangat banyak mereka yang bekerja hanya untuk menumpuk harta dan mereka yang
belajar hanya untuk mendapatkan pekerjaan, Padahal semua itu dapat kita raih karena izin Allah SWT.
maka pantaskah kita menafikan Allah dalam setiap kegiatan yang kita lakukan ?
sama sekali tidak. Oleh karena itu lakukanlah dengan niat karena Allah SWT.
“Niat itu seperti surat, bila salah alamat
maka akan salah tempat”
Meluruskan niat menjadi dasar untuk memulai menjadi pribadi
yang bermanfaat, hijrah dari pribadi yang buruk menjadi pribadi yang baik.
Niatkan bermanfaat karena Allah, maka jalannya pun akan dibukakan, dan
kebaikan-kebaikan akan datang mendekat, jika kebaikan telah menyertai, kita pun
akan mudah menyebarkan kebaikan itu kepada yang lain. Hanya bermula dari niat
yang baik, bisa menjadi bermanfaat. Apalagi jika melakukan perbuatan yang baik,
tentu bermanfaat bagi banyak orang serta membuat orang lain melakukan hal
demikian pula.
Seperti dalam pesan teladan abadi kita Rasulullah saw, bahwa
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menulis semua kebaikan dan keburukan.
Barangsiapa berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, Allah
Azza wa Jalla menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya. Jika
dia berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia melakukannya, Allah menulis pahala
sepuluh kebaikan sampai 700 kali, sampai berkali lipat banyaknya. Barangsiapa
berkeinginan berbuat keburukan, lalu dia tidak melakukannya, Allah Azza wa
Jalla menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya. Jika dia
berkeinginan berbuat keburukan, lalu dia melakukannya, Allah Azza wa Jalla
menulis satu keburukan saja.(HR. Bukhâri dan Muslim 131).
KATAKANLAH “YA ALLAH”
Semua yang ada dilangit dan di bumi selalu meminta pada-Nya.
ketika laut bergemuruh, ombak menggunungn dan angin bertiup kencang menerjang,
semua penumpang kapal akan panik dan menyeru “ya Allah”
Ketika seseorang tersesat dipadang pasir, kenderaan
menyimpang jauh dari jalurnya, dan para kafilah bingung menentukan arah dan
tujuannya, mereka akan berseru “ya Allah”
Ketika bumi terasa sempit, jiwa dilanda gundah gulana,
musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedy terjadi, mereka yang mengalaminya
akan selalu berseru “ya Allah”
Ketika semua cara tidak lagi mampu menyelesaikan, setiap
jalan terasa sempit, segala harapan sudah terputus, jalan pintaspun mulai
buntu, pintu-pintu permintaan telah tertutup, dan tabir- tabir permohonan
digeraikan, orang-orang akan mendesah”
ya Allah”
Kita mengingat-Nya
disaat malam begitu gelap gulita, dan meyebutnya disetiap apapun yang melanda
hidup, pantaskah kita melakukan segala sesuatu tanpa berniat karena-Nya?
Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air
mata yang menetes penuh keikhlasan, dan semua keluhan yang menggandahgulanakan
kehidupan adalah hanya pantas ditujukan kehadirat-Nya dan berniat karena-Nya.
Niat karena Allah bukan hanya mendatangkan nilai kepada
perbuatan, tetapi juga dapat mewujudkan dorongan atau motivasi dalam suatu
pekerjaan dalam menjalani kehidupan.
MULAILAH DENGAN NAMA ALLAH
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang.” (Q.S.Al-fatihah:1)
Allah Subhanahu wa ta’ala telah memulai Al-Qur’an dengan
kalimat Bismillahirrohmanirrohim, sebagai isyarat agar manusia memulai
segala aktifitasnya dengan lafaz ini. Setiap aktifitas yang kita lakukan tidak
akan sempurna tanpa dimulai dengan Bismillah, seperti Sabda Rasulullah SAW
yang amat populer:
“Segala sesuatu yang tidak dimulai dengan bismillah
akan buntung (tidak sempurna).”
Tapi kenapa harus demikian? Mengapa kita harus memulai
segala sesuatu dengan nama Allah? Simak alasan berikut ini;
Kita adalah makhluk yang sangat terbatas dihadapan Allah
yang begitu agung. Sebesar apapun perbuatan kita pada hakikatnya sangat kecil
dan perlahan akan sirna. Namun jika perbuatan kecil itu kita hubungkan dengan
Dzat Allah yang tak terbatas, suci dan kekal, maka perbuatan itu akan menjadi
agung dan kekal pula. Sebesar apapun kemampuan yang kita miliki, sebenarnya
kita hanyalah makhluk yang lemah. Bagai setetes air ditengah samudra yang luas.
Namun jika setetes air itu menyatu dengan samudra kekuasaan Allah yang begitu
agung maka terasa air itu akan menjadi besar dan memiliki kemampuan yang luar
biasa. Tetesan itu mampu merubah segalanya.
Sebagai muslim, kita diperintahkan untuk memulai setiap
perkerjaan dengan mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim. Serta
mengucapkan Alhamdulillah apabila
selesai melaksanakan pekerjaan tersebut. Dengan itu kita sadar semua itu datang dari
Allah dan kita mengharapkan ridho-Nya.
Dengan mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim
menunjukkan suatu permulaan yang baik, dengan bersandar kepada Alllah SWT.
dengan mengharapkan kasih sayang dan rahmatnya yang meliputi pekerjaan yang kita
lakukan.
Ketika makan kita mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim. dengan
demikian kita sadar rezeki itu datang dari Allah dan kita mengharapkan
keberkahan dari makanan tersebut. Dan mengucapkan Alhamdulillah jika
mengakhirinya. Selain itu, ucapan bismillah juga dapat menghalang
syaitan agar tidak ikut serta dalam menikmati makanan tersebut. hal ini sesuai
hadis Rasulullah SAW:
Rasulullah
saw pernah melihat seorang laki-laki makan tanpa mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim.
Namun sebelum menghabiskan suapan terakhir, lelaki itu teringat lalu
mengucapkan “Bismillahirrohmanirrohim wa awwaluhu wa akhiruhu.” rasulullah
saw tertawa melihatnya dan berkata ,“ demi allah syaitan ikut makan
bersamamu sampai engkau menyebut nama Allah. Syaitan kemudian memuntahkan
semua yang masuk kedalam perutnya setelah ucapanmu itu.” ( H.R. Ahmad, Abu
Daud, Nasa’i ).
Ketika kita memulai
segala aktivitas dengan menyebut nama Allah SWT. Hal ini akan menjadi sebuah
kekuatan. Karena disaat seseorang menyebut nama Allah, disaat besamaan
pula Allah akan menyertainya.
Menaiki kendaraan, kita ucapkan Bismillahirrohmanirrohim,
ketika keluar dan masuk rumah juga demikian. Begitu juga dengan semua aktivitas
yang kita lakukan sepanjang hari. Kita mengharapkan barokah dari semua
aktivitas tersebut. jika tidak menyebut nama Allah, dengan nama siapa lagi kita
memulai pekerjaan? Bukankan semua nikmat dan kebaikan itu datangnya dari Allah
SWT.
Kaum muslimin terdahulu selalu memulakan setiap aktivitas
mereka dengan menyebut nama Allah. Mereka memulakan setiap tulisan, surat, buku
dan acara dengan bismillah. Tidak ada rasa malu maupun janggal, bahkan
mereka merasa bangga melakukannya. Hal ini berbeda dengan kita, yang selalu
merasa malu dan janggal bila memulai sesuatu aktivitas dengan menyebut nama
Allah SWT.
Ucapan bismillah Adalah permulaan yang baik yang artinya kita
ingat kepada Allah ketika kita ingin memulai suatu pekerjaan. Kita berharap
agar pekerjaan itu diterima sebagai amalan baik oleh Allah sehingga dengan itu
Allah mencukupkan apa-apa yang kurang, menjadikan mudah perkara yang susah dan
melapangkan perkara-perkara yang sempit.
Ucapan bismillah itu sangat mudah untuk dilafazkan,
tetapi banyak orang yang merasa berat untuk melakukannya bahkan tidak sedikit
yang melupakannya. Mungkin karena kita melihatnya suatu perkara yang tidak
penting. Lupakah kita bahwa semua yang
kita miliki saat ini merupakan milik dan pemberian dari Allah. Akankah kita
menjadi hamba yang tidak menyadari akan hal itu?. Oleh karena itu mulakanlah
setiap aktivitas kita dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrohiim, agar
akhirnya menjadi sesuatu yang indah.
Marilah membiasakan memulai langkah dengan selalu meyertakan
Allah dalam setiap aktivitas yang kita lakukan, mulailah dengan nama Allah
dengan mengucapkan Bismillahirrahamanirrahim, sebagai sebuah langkah
awal dengan keyakinan bahwa Allah akan selalu menyertai kita disaat namanya
kita sebut di awal pekerjaan yang akan kita lakukan. Ingatlah! Utamakanlah
tuhanmu, maka engkau akan diutamakan.
Mencari
Hidayah Tuhan
Hijrah 2
LANGKAH KECIL
MENUJU SYURGA
وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia
kecuali untuk beribadah kepadaku.” (Q.S. adz-Dzariyaat: 56)
S
|
ungguh menakjubkan bahwa semua
kehebatan dan kebesaran itu bermula dari satu kebaikan yang kecil. Setiap
perkara di dunia ini ada awal dan ada pula akhirnya. Kita perlu tahu dengan
yakin dan pasti apakah akhir yang ingin kita capai. Akhir atau tujuan itu
sangat perlu kita renungkan dan pahami dengan sebenar-benarnya. Apabila
tujuan yang akan dicapai sudah pasti,
maka perlu pula diketahui jalan terbaik untuk mencapai tujuan itu. Setelah
tujuan dan jalannya dekatahui pasti, barulah memulai langkah pertama. Jangan
lakukan secara terbalik; memulai langkah tanpa mengetahui arah dan tujuan, hal
ini sesuatu yang sulit walaupun banyak orang yang melakukannya.
Sebelum kita mengetahui tempat yang akan dituju, tidak ada
gunanya kita memilih jalan yang akan kita lewati. Karena semua jalan itu tidak
akan membawa kita ketempat tujuan yang sepatutunya.
Jalan itu hanya berguna jika kita sudah menentukan tempat
yang akan dituju. Setelah tempat ditentukan, barulah langkah pertama kita
mulakan. Meskipun hanya satu langkah yang kecil dan permulaan yang sederhana,
pada akhirnya ia akan tetap membawa kepada sesuatu yang besar dan bermakna
menuju tempat yang sudah ditentukan sebelumnya.
Hidup ini sangat penting dan kita hanya menjalaninya sekali
saja. Maka alangkah ruginya seribu langkah yang kita jalani tanpa tahu kemana
akhirnya. Detik, menit, jam, hari, dan tahun kita lalui, namun tanpa sadar apa
sebenarnya yang akan kita harapakan.
Nafas-nafas telah dihembuskan, ribuan kilo kubik oksigen
yang sudah kita hirup, puluhan ton makanan yang kita konsumsi telah menjadi
sampah, jutaan energi yang sudah kita hasilkan dalam segala gerak gerik yang
kita lakukan, tapi kemanakah ia membawa dan menghantarkan kita? Apakah Kepada
satu tujuan yang baik? Atau kepada ketidak tahuan dan kebingungan? Atau malah
kepada jalan yang sesat? Jika hidup ini mengarah kepada kebingungan apalagi
jika mengarah kepada kesesatan, alangkah ruginya kita dalam menjalani kehidupan
ini. kita hanya menghabiskan waktu dan berputar-putar tak tentu arah dan
tujuan. Bagaimana jika kematian menjemput kita, tidakkah kita bertambah bingung
dan tersesat.
Hidup tanpa tujuan samalah seperti naik bus tanpa destinasi
( tempat yang akan di tuju ). Walaupun kedua-duanya dalam sekala yang jauh
berbeda. Naik bus tanpa destinasi, kita akan sesat dijalan. Namun jalan pulang
masih boleh dicari. Bagaimana jika hidup tanpa destinasi? Sama sekali tidak ada
jalan pulang. Hanya penyesalan yang tidak berkesudahan yang akan mengiringi
kita kedalam kubur.
Coba kita banyangkan situasi ini. seorang pemuda menaiki sebuah
kereta api. kereta api bergerak dari satu setasiun ke setasiun berikutnya,
namun pemuda itu terus duduk di dalam kereta api tersebut hingga tidak ada
penumpang selain dia. Apabila ditanya, hendak kemana ia akan pergi, dia
menjawab,” saya tidak tahu. Turunkan saja dimana-mana.”
Ini jawaban yang sangat bahaya! Janganlah sekali-kali kita
minta diturunkan dimana-mana saja, Kenapa ? karena jika kereta api yang kita
naiki itu tidak pergi ke stasiun yang pertama, sudah pasti ia pergi ke stasiun
yang kedua. Artinya jika kita terjemahkan dalam menjalani kehidupan ini,
setasiun terakhir kehidupan ini hanya ada dua, jika tidak berakhir dengan
kesudahan yang baik ( syurga ) sudah pasti berakhir dengan kesudahan yang buruk
( neraka).
SALAH ARAH
Baiklah, sekarang kita sudah menentukan tempat yang akan
dituju. Langkah berikutnya adalah pilihlah jalan yang akan membawa kita
ketempat tujuan itu. Mungkin ada banyak jalan yang menuju kesitu, akan tetapi
pilihlah jalan yang tepat. Jalan itu mungkin sulit untuk dilalui. Memang sudah
lumrah, untuk mendapatkan sesuatu yang besar dan baik, selalu ada hambatan dan
rintangan yang harus kita lewati.
Bagaimana jika kita salah memilih jalan? sudah pasti kita
tidak akan sampai ketempat yang akan dituju. Jika inign kehulu, maka jangan
ambil jalan kehilir. Kalau ingin ke syurga, maka jangan pilih jalan ke neraka!
Jika kita salah pilih jalan kemudan sadar dipertengahan
jalan, kita masih ada kesempatan untuk menukar arah. Ini prinsip yang sangat
sederahana. Tapi banyak orang tak melakukannya. Seperti kisah seorang ibu di
mesir yang tersalah dalam menilai hidup. ia selalu bersedih disaat musim panas
karena teringat anaknya yang pertama dan juga sedih disaat musim hujan tiba
karena teringat anaknya yang kedua. (baca Abdurrohim hrp; Mengungkap Motivasi
Kehidupan dengan Al-Qur’an, Yogyakarta : Wade Group. h. 104).
Semua orang pasti mengatakan aku ingin ke syurga, namun
sebahagian dari mereka memilih jalan yang salah. Apabila diberitahu kepadanya
jalan itu bukan jalan ke syurga, dia tetap dengan keyakinannya tanpa
menghiraukan orang yang mengingatkannya. Jika ia ditanya bagaimana ia yakin
akan jalan yang ditempuhnya itu jalan ke syurga, ia menjawab, hanya menurut
andaian dan sangkaan saja.
Bukankah Allah SWT. dan Rasul-Nya telah memberikan jalan
menuju ke syurga? Jalannya adalah dengan mengikuti ajaran Rasulullah SAW.
melalui al-Qur’an dan sunnah. Tidak mungkin sampai ke syurga jika mengikuti
jalan yang dipandu syaitan laknatullah. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
“Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali
mereka yang menentangku." (H.R.Bukhori)
Orang–orang yang bertakwa pastilah bersungguh-sungguh dan
berhati-hati dalam memulai dan menjalani hidup mereka. Memperhatikan setiap
langkah yang mereka lakukan, apakah langkah itu di ridhoi Allah SWT atau
sebaliknya.
Al-Hasan berkata, “ aku tidak melihat dengan mataku,
berbicara dengan lidahku, bergerak dengan tanganku dan berjalan di atas kakiku
hingga aku berpikir apakah semua ini dalam ketaatan atau kemaksiatan. Jika
dalam ketaatan, aku teruskan. Jika dalam kemaksiatan aku tinggalkan.
Jadi hendaklah kita memastikan tujuan dan mengetahui
jalannya. Jika dua perkara ini sudah ditetapkan, mulailah melangkah ke arah
tujuan. Destinasi yang dituju mungkin jauh, jalan yang dilalui mungkin sangat
sulit, tapi yakinlah dengan izin Allah SWT. kita pasti akan sampai. Jangan
sekali-kali menyerah, kalah dan putus asa. Kuatkan niat hanya untuk mencari
keridhoan Allah SWT. lakukanlah segala sesuatu dengan penuh keikhlasan
InsyaAllah semua hambatan dan rintangan terasa mudah dan ringan.
Mencari
Hidayah Tuhan
Hijrah 3
ANGGAPLAH HARI INI
HARI TERAKHIRMU
وَلِكُلِّ
أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ
فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا
يَسْتَقْدِمُونَ
“Tiap-tiap umat mempunyai batas
waktu; maka apabila telah datang waktunya (ajal) mereka tidak dapat
mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.(Q.S. Al-'A`raf : 34)
B
|
erapa lama lagi kita akan hidup? 10,
20, 30 atau sekedar satu tahun lagi dan bahkan lebih cepat? Saya yakin dan
percaya tidak ada seorangpun yang mampu untuk menjawabnya. Jika mendengar ada
sahabat atau saudara kita meninggal dunia karena sakit atau serangan jantung,
bagaimana perasaan kita? coba bayangkan, apakah orang yang mati itu pernah
membayangkan sebelumnya bahwa ia akan mati pada saat kematiannya itu? Tentunya
tidak saudaraku.
Jadi, bagi kita yang akan menyusul mereka meninggalkan dunia untuk selamanya juga tidak
pula tahu saat kematian itu tiba ( sama seperti simayat sebelumnya), oleh
karena itu seharusnya mengajar kita agar tidak menunda. Jangan sekali-kali
menunda untuk berbuat baik, meminta maaf, memaafkan orang lain, beribadah
kepada Allah SWT, dan melakukan keputusan-keputusan yang tepat. Sementara waktu
masih ada, usia masih bersisa, kesehatan masih kuat, kelapangan masih dapat
dikendalikan, kekayaan masih dalam genggaman. Maka dari itu kelola waktu dengan
sebaik-baiknya, gunakan usia muda sebelum tua, manfaatkan kesehatan sebelum
sakit, gunakan lapang sebelum datang masa sempit, dan gunakan kekayaan seblum
datang kemiskinan. Jadilah “si mati” yang telah beres segala kerjanya.
Bagaimana hendak mencapai rasa hati yang seperti itu? Mudah saja “ingat mati selalu” .
ingatkan diri kita sendiri bahwa hari ini mungkin hari terakhir kita di dunia.
Apabila bangun dari tidur katakan kepada diri:
“Wahai diri, Hari ini mungkin hari terakhir aku hidup di dunia ini. Oleh
karena itu, aku tidak akan menangguhkan ucapan kasih sayangku kepada semua yang
akrab denganku, aku tidak akan menangguhkan amal kebaikan yang telah lama aku
rencanakan, aku tidak akan menunggu lagi untuk meminta maaf dan memberi maaf
kepada semua orang yang aku bersalah dengannya atau mereka yang bersalah
denganku”.
Alangkah leganya kita meninggalkan dunia yang fana ini tanpa
beban kerja yang belum dikerjakan dan menghadap Allah SWT dengan ketenangan.
Katika itu, tentulah orang yang kita tinggalkan akan merelakan kepergian kita
tanpa ada rasa terbebani, istri atau suami yang ditingglakan pasti merasa
sedih, namun mampu menghadapinya dengan sabar karena tidak ada lagi rasa beban
yang tersimpan. Segalanya sudah tuntas dan selesai. Ibu bapak akan terasa
kehilangan, namun jauh disudut hati mereka ada rasa lega karena kita pergi
sudah memiliki bekal yang cukup untuk menghadap sang Ilahi rabbi.
Mengingat mati itu sangat penting untuk menjalani kehidupan.
Ia ibarat sebuah alat control yang menggerakkan amal bakti untuk bekal hidup
sesudah mati. Hati yang ingat mati adalah hati yang mengetahui hakikat hidup.
Hati yang ingat mati akan menggerakkan seluruh panca indra dan anggota tubuh
lainnya untuk melakukan ketaatan dengan segera ( tanpa menunda). Ia umpama “Deadline” (batas waktu) yang menjadi peringatan untuk menyiapkan
sebuah pekerjaan, malah lebih daripada itu. Hakikat bahwa mati itu datang
secara tiba-tiba adalah satu ketergesaan, yang merupakan sebuah dorongan paksa
untuk melakukan ketataan.
Coba renungkan, jika
seandainya benar sholat yang kita lakukan nanti adalah sholat yang terakhir, tentulah
kita akan bersegera dan bersungguh-sungguh melakukannya dengan penuh rasa
takut, penuh harapan, malu, cinta dan merasa hina menghadap Allah SWT. Mana
mungkin kita menunda-nunda sholat atau
melaksanakannya sambil santai ( bergurau) jika kita meresakan itu sholat kita
yang terakhir. Mungkin seorang pidana yang akan dihukum gantung sampai mati
sajalah yang boleh menceritakan rasa hatinya ketika mengerjakan sholatnya yang
terakhir!
Betapa sedihnya kita apabila kita tinggalkan isteri dalam
keadaan marah-marah. Rupanya itulah kali
terakhir kita melihat wajah dan mendengar suaranya. Pasti ada rasa penyesalan,
mengapa kemarahan, wajah yang masam dan
kata-kata kasar yang kita “ hadiahkan” ketika pertemuan terakhir itu? Ya, hal
ini pasti akan kita rasakan, namun penyesalan tak berarti lagi, kita tidak
mungkin pulang lagi karena telah pergi dan takkan kembali.
WAHAI JIWA SADARLAH!!
Berapa banyak orang yang benci ketika ada orang yang
mengingatkan bahwa mungkin hari ini hari terakhir kita. Nafsu yang inginkan
kelezatan dunia selalu berbisik, saat itu masih jauh. Dibelenggunya jiwa dengan
berbagai alasan dan jastifikasi palsu. Ia selalu berkata dalam hatinya:
“kamu masih muda, masih sehat. Waktumu masih panjang. Nikmatilah untuk
bersenang-senang. Bertobat dan berbuat baik itu, kan bisa nanti!.
Mati akan memadamkan rasa lezat terhadap maksiat. Mana
mungkin syaitan tegar membiarkannya. Lalu syaitan dan nafsu berpadu tenaga
untuk melupakan manusia dalam berbuat baik
dan beribadah kepada Allah SWT. Hingga ajal menjemput untuk menghadap
sang pencipta.
Jika diberi kesempatan, mereka yang sudah mati, pastilah
menginginkan untuk mengingatkan kita yang masih hidup, malangnya mereka tidak
akan pernah kembali untuk mengingatkan kita.
Apa yang telah dilihat, didengar dan dirasakan oleh mereka
di alam barzah sana? Apakah kesesalan atau kelegaan? Kita tidak akan
mengetahuinya karena kita akan diberi peluang untuk itu ketika kita sudah
sampai disana.
Namun bagi orang yang beriman, tidak perlu jasad sampai ke
alam barzah untuk mengetahui dan merasakan kebenarannya. Cukup ayat-ayat al-
Qur’an dan hadis yang menjelaskan
hakikat hidup setelah mati. Inilah dibalik pesan hadis rasulullah SAW:
“Demi
tuhan yang jiwaku ini berada dalam genggaman-Nya. jika kamu semua tahu apa yang
aku tahu, niscaya kamu banyak menangis dan sedikit tertawa. “ ( Riwayat
al-Bukhari).
Kita tidak mungkin mendapat nasehat dari orang yang mati, tetapi
kita dituntut untuk mendapat nasehat dari
kematian. Sebagaimana
rasulullah SAW. Berpesan dalam hadisnya:
“Cukuplah bagimu mati itu sebagai penasehat.”
(riwayat al- Baihaqi)
Lakukanlah yang terbaik menurut ajaran Allah SWT (al- Qur’an
dan hadist ) selagi waktu masih ada, Jangan mengharapkan ganjaran, balasan dan
ucapan terimakasih dari manusia, tentu kita akan kecewa. Umumnya manusia memang
tidak pandai berterima kasih, apalagi untuk membalas budi. Memang betul berbuat
baik dibalas baik, tetapi yakinlah tidak semua kebaikan itu Allah SWT Berikan “
disini (dunia). Ada yang Allah SWT sisakan disana (akhirat).
Semoga hari-hari kita tidak berlalu tanpa mengingat
kematian. Kematian itu pasti dan setiap yang pasti itu dekat. Lalu apalagi yang
ditunggu ? ucapkanlah, lakukanlah segala kebaikan yang selama ini kita
tangguhkan. Mulailah dengan hati yang ikhlas, lakukanlah demi mencari kerdhoan
Allah SWT. Perbanyaklah bekal untuk menghadap sang Ilahi rabbi, dan jangan
meninggalkan “ hutang “ dengan manusia untuk menghadap Tuhan Yang Maha Esa.
Bekerja untuk mencapai kebahagiaan dunia itu baik, dan tidak
ada larangan, namun jangan sampai melupakan amal untuk akhirat. Bekerjalah
sesuai tuntunan yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya, bekerjalah untuk
mencari kepentingan dunia dengan semangat hidup selamanya, tapi jangan lupa
bekerja untuk akhirat karena mungkin kita mati esok harinya, sebagaimana pesan
rasulullah SAW :
“Bekerjalah
engkau untuk kepentingan duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan
bekerjalah engkau untuk kepentingan akhiratmu seakan-akan engkau akan mati
besok.” (Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a.)
Mencari
Hidayah Tuhan
Hijrah 4
KEBAIKAN MENIMBULKAN
KETENANGAN
...الَّذِينَ
آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ
الْقُلُوبُ....
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dan
tenang dengan mengingat Allah, ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati
menjadi menjadi tentram.” (Q.S. Ar-Ra’d : 28)
K
|
ebaikan akan menimbulkan ketenangan,
sedangkan kejahatan akan membuat hati menjadi resah dan gelisah. Apabila hati
tidak tenang, itu pertanda dosa sudah membelenggu. Maka, bebaskanlah ia dengan
kembali bertaubat kepada Allah SWT. kembalilah kepada sang Pencipta, kembali
kepada jalan yang lurus untuk mencari kembali hidayah yang telah hilang. Rasul SAW. bersabda:
Dari Wabishah bin Ma’bad, ia berkata,” aku datang kepada
rasulullah saw, lalu baginda bersabda:
Adakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan? aku menjawab
”benar.” Baginda bersabda; mintalah
fatwa dari hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan
hati. Mana kala dosa itu adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan
hati, walaupun orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.”(H.R.
Ahmad dan al-Darimi)
Mengapa manusia melakukan dosa? Padahal dosa itu meresahkan
hati. Para ulama memberikan 3 sebab utama:
§
Tidak yakin kepada Allah SWT
§
Tidak yakin akan adanya
hari pembalasan
§
Terlalu cinta kepada diri
sendiri dan mengabaikan orang lain.
Pertanyaannya mengapa orang islam pun masih banyak yang melakukan
dosa?
Jawabnya karena kita hanya percaya, tetapi tidak yakin
kepada Allah SWT dan hari pembalasan. Jika ditanya, apa bedanya antara yakin
dan percaya? Terlalu jauh bedanya. Percaya itu adalah akal. Ia dimiliki oleh
pemikiran hasil belajar. Sedangkan yakin itu datangnya dari hati. Ia dimiliki melalui jalan tarbiyah dan
mujahadah.
Jika telah berhasil menggenggam sebab pertama dan kedua
yaitu yakin kepada Allah SWT dan hari pembalasan. Maka Kedua sebab itu akan
menumbuhkan sebab yang ketiga yaitu
ukhwah, persaudaraan dan kasih sayang. Dengan iman kepada Allah SWT,
terbentuklah kasih sayang sesama manusia.
Jika ditanya siapakah manusia yang paling kasih kepada
manusia lain? Jawabnya, mudah. Orang yang paling kasih kepada manusia lain
adalah dia yang paling kasih kepada Allah SWT. Mengapa demikian? Hal ini karena jika kita ingin mengasihi
Allah SWT. maka Allah letakkan syarat agar kita turut mengasihi hamba-Nya.
Allah meminta manusia yang hendak mengasihi-Nya menjadi perantara untuk Dia mengasihi hamba-hamba-Nya yang lain. Kita
harus menjadi perantara Allah untuk menyalurkan ilmu, rezeki, kasih sayang dan
keadilan-Nya kepada manusia.
Justru, jika kenyataan ini kita pandang dari sisi lain, kita
boleh tegaskan begini: “hanya orang yang hatinya benar-benar yakin kepada Allah
saja yang bisa menabur kebaikan dengan jiwa yang ikhlas kepada manusia lain.
Jika ada manusia yang ingin menabur jasa dan kebaikan kepada
manusia, tetapi tidak nampak sedikitpun keseriusannya untuk mendekati Allah SWT,
maka kemungkinan besar ia hanya berpura-pura. Atau ia berbuat kebaikan untuk
mengharapkan balasan yang lebih besar lagi.
Berapa banyak manusia yang membusungkan dada ketika berbuat
kebaikan kepada manusia lain, tetapi mengabaikan hubungannya kepada Allah SWT.
Mungkin sama banyaknya dengan manusia yang mengatakan hubungannya sangat dekat
dengan Allah SWT, tetapi menghiraukan hubungannya sesama manusia.
Jangan pernah lupa bahwa “yakin kepada Allah SWT” adalah
kunci dari segala kebaikan dan kejujuran.
Jangan juga lupa bahwa “cinta kepada dunia” adalah ibu dari segala
kejahatan. Jika Allah dipinggirkan dari dalam diri, keluarga, masyarakat, atau
sebuah negara, maka jangan sekali-kali kita percaya kepada ajakan diri,
keluarga, masyarakat, atau sebuah negara itu untuk berjasa kepada manusia.
Seruan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT harus lebih
mendominasi dari seruan-seruan yang lain. Dasar dakwah islamiyah adalah untuk
mengajak orang ramai merdeka daripada penghambaan sesama manusia menuju
penghambaan diri kepada Allah SWT, disamping itu menyadarkan manusia agar
memburu kelapangan hari akhirat dengan meninggalkan kesempitan dunia dan meninggalkan
kezaliman sistem hidup yang dibuat
manusia, demi untuk mendapatkan sistem hidup yang bersumber dari Islam.
MEMPERBAIKI HUBUNGAN KEPADA ALLAH
Hubungan antara Sang Pencipta dan yang diciptakan adalah
suatu hubungan yang tidak mungkin dipisahkan. Manusia sebagai makhluk yang
diciptakan Allah SWT, mustahil bisa berlepas diri dari keterikatan dengan-NYA.
Bagaimanapun tidak percayanya manusia dengan Allah, suka atau tidak suka, sadar
atau tidak sadar manusia akan mengikuti sunatullah yang berlaku di
alam semesta ini.
Sesungguhnya hubungan antara Allah dan manusia sudah
disadari oleh sebagian besar manusia sejak dahulu. Mereka sudah
mendudukkan Allah sebagai Rabb (pencipta alam semesta) tapi mereka masih
terhalangi, baik oleh kejahilan atau kesombongan, untuk menempatkan Allah
sebagai Ilah yang disembah/diabdi, (Q.S 39:67). Manusia yang demikian belumlah
sempurna kehidupannya karena ia telah mengingkari sesuatu yang hak
dan telah berlaku dzolim, dengan menempatkan sesuatu pada tempat yang
salah. Mereka telah menempatkan makhluk (hidup ataupun mati)
sebagai ilah mereka.
Oleh karena itu seorang mukmin harus memahami
bagaimana hubungan yang seharusnya dibina dengan Allah SWT,
sebagai Rabb dan Ilah-nya. Hal yang penting didalam membina
hubungan itu, manusia harus lebih dahulu mengenal betul siapa
Allah. Bukan untuk mengenali zat-NYA, tetapi mengenali
landasan dasar-NYA (masdarul ´ilmi)/ilmu-ilmu Allah. Dengan memahami bagaimana
luasnya kekuasan dan Ilmu Allah, akan timbul rasa kagum dan takut kepada
Allah SWT sekaligus menyadari betapa kecil dan hina dirinya. Pemahaman itu
akan berlanjut dengan kembalinya ia pada hakikat
penciptaannya dan mengikuti landasan hidup yang telah digariskan oleh Allah
SWT. Ia menyadari ketergantungannya kepada Allah dan merasakan
keindahan iman kepada Allah.
Jika inti hubungan manusia dengan Allah adalah pengabdian
atau ibadah, maka inti hubungan Tuhan dengan manusia adalah aturan, yaitu
perintah dan larangan. Manusia diperintahkan berbuat menurut aturan yang telah
ditetapkan Allah. Jika manusia menyimpang dari aturan itu, maka ia akan
tercela, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Aturan itupun ada dua
macam, pertama aturan yang dituangkan dalam bentuk hukum-hukum alam
(sunnatullah) dan aturan yang dituangkan dalam kitab suci Al-Qur’an dan hadis
Nabi Muhammad saw.
Aturan yang dituangkan dalam kitab suci Al-Qur’an dan hadis
Nabi SAW, misalnya tentang perintah sholat, perintah zakat, perintah puasa,
perintah haji, larangan berzina, larangan mencuri, larangan meminum arak,
larangan memakan daging babi, dan lain-lain. Dalam hal ini, manusia
diperintahkan menaati segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Adapun
aturan yang dituangkan dalam hukum alam adalah, misalnya, api itu bersifat
membakar, panas dan berbahaya.
Oleh karena itu, jika orang mau selamat, maka ia harus
menjauhkan dirinya dari api. Sebagai contoh lain, benda yang berat jenisnya
lebih berat dari air akan tenggelam dalam air. Dengan demikian, manusia akan
celaka (tenggelam) jika masuk ke dalam air laut tanpa pelampung, sebab berat
jenisnya lebih berat dari air. Demikianlah aturan yang dituangkan dalam kitab
suci (āyah qur’āniyah) dan yang dituangkan dalam hukum alam (āyah kawniyah).
Keduanya harus dipatuhi agar orang dapat hidup selamat dan sejahtera, baik di
dunia maupun di akhirat.
Maka dari itu perlu kita kemukakan, Dimana Allah SWT dalam
keluarga, masyarakat dan diri kita. Apakah Allah swt sudah kita jadikan sebagai
Pencipta Agung yang wajib kita taati perintah dan larangannya atau malah
mengabaikannya? Ini satu muhasabah yang
perlu kita pikirkan jika kita benar-benar jujur untuk menjadi hamba yang baik
dan mengerti akan tugas dan kewajiban kita sebagai manusia. Merekalah para
rasul, nabi, sahabat-sahabat dan umumnya golongan salafussoleh yang harus kita
ikuti jejaknya. Mereka adalah individu yang dekat dengan Allah SWT dan dekat
kepada manusia untuk mengetahui masalah
manusia guna membantu menyelesaikan masalah-masalahnya.
ANTARA KETENANGAN JIWA, KEDAMAIAN HATI, DAN KEBENARAN
Pada zaman ini, banyak permasalahan yang dihadapi setiap manusia
dan secara khusus kaum Muslimin, baik berkaitan dengan masalah lahir, batin,
ataupun kejiwaan. Dari sini, muncullah berbagai ragam usaha untuk mengatasi
problematika hidupnya. Tujuan utamanya, pada dasarnya hanya satu, yaitu; mendapatkan
kepuasan hati, ketenteraman hidup, dan ketenangan jiwa.
Yang amat disayangkan, munculnya anggapan keliru karena
ketidakpahaman atau karena belum mengerti, bahwa tidak semua hal yang mampu
mendatangkan kepuasan, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa menunjukkan
kebenaran sesuatu tersebut. Ya, kita bisa katakan benar, memang sesuatu
tersebut dapat mendatangkan kepuasan, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa.
Namun permasalahannya, apakah semua hal yang bisa mendatangkan kepuasan,
ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa bisa dibenarkan secara syar’i? Jadi,
yang dimaksud “benar” disini adalah, benar secara tinjauan dan hukum syar’i.
Jika tidak demikian, kita akan menemukan betapa banyak praktek-praktek yang
memang telah terbukti mampu mendatangkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan
ketenangan jiwa setiap orang. Sebagai contoh, sebutlah bersemedhi, bertapa,
atau meditasi, atau terapi psikologis lainnya. Hal-hal tersebut memang terbukti
mampu mendatangkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa orang
yang melakukannya. Namun, apakah syariat Islam yang mulia dan sempurna ini
membenarkannya? Atau minimal mengizinkannya? Atau apakah kepuasan hati,
ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa tersebut jika memang terjadi adalah
hakiki dan abadi? Inilah permasalahannya.
Al-Imam al- ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Adapun di
bawah derajat orang ini (yakni orang yang merasakan kelezatan dengan mengenal
Allah dan bertaqarrub dengan-Nya), maka sangatlah banyak, dan tidak bisa
menghitung banyaknya kecuali Allah. Bahkan, sampai pada derajat orang (yang
masih bisa merasakan kelezatan dengan) melakukan hal-hal yang sangat hina,
hal-hal yang kotor dan menjijikan, baik berupa perkataan maupun perbuatan.
Perkataan beliau ini menjelaskan, ternyata ada hal-hal yang memang
terbukti mampu mendatangkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan
jiwa orang yang melakukannya, namun, tentu sangat berbeda derajat orang yang merasakan
kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa dengan cara bertaqarrub
dan taat kepada Allah, dengan orang yang mencapainya tetapi dengan cara
bermaksiat dan meninggalkan perintah-perintah Allah SWT.
Permasalahan ini, persis dengan seseorang yang mencari kesembuhan
dari penyakit kronis yang dideritanya, sementara para dokter telah angkat
tangan dari penyakitnya tersebut, lalu akhirnya, orang ini berobat ke dukun,
kemudian sembuh. Maka, apakah kesembuhannya bisa ia jadikan dalil atas bolehnya
berobat atau mendatangi dukun? Apakah kesembuhan yang ia dapati dengan izin
Allah SWT menunjukkan bahwa dukun tersebut berada di atas al-Haq? Apakah
kesembuhannya itu berasal dari cara yang dibenarkan oleh syariat Islam?.
Sebagai seorang muslim yang mudah-mudahan Allah SWT senantiasa
memberikan taufiq-Nya, kita tentu tidak boleh ragu dan syak, bahwa kepuasan
hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa adalah salah satu sifat syariat
Islam yang mulia dan sempurna ini. Itupun, harus dilakukan sesuai dengan
tuntunan syariat yang benar dalam beribadah. Yaitu, ikhlash hanya untuk Allah semata, dan mutaba’atur rasul (mengikuti
tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), sebagaimana yang telah
banyak diterangkan oleh para ulama tentang masalah ini.
Dari sekilas penjelasan di atas, kita bisa pahami, bahwa merupakan
kekeliruan jika ada seseorang yang berkata “Segala sesuatu yang bisa
mendatangkan dan menimbulkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan
jiwa, maka hal itu boleh-boleh saja dilakukan, karena hal itu merupakan indikasi
kebenaran sesuatu tersebut.”
Di manakah letak kekeliruan perkataan ini? Kita katakan: “Memang, salah satu bukti benarnya sesuatu hal
adalah timbulnya kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa pada si
pelakunya. Dan ini merupakan salah satu sifat syariat Islam jika dilakukan
sesuai dengan tuntunan syariat yang benar dalam beribadah, sebagaimana telah
diterangkan di atas. Namun, tidak semua yang bisa mendatangkan dan menimbulkan kepuasan
hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa sebagai sebuah kebenaran.”
Seandainya orang itu hanya berkata “Segala sesuatu yang bisa
mendatangkan dan menimbulkan kepuasan hati, ketentraman hidup dan ketenangan
jiwa boleh-boleh saja dilakukan,” hanya sampai disini saja, mungkin masih bisa
kita benarkan. Itupun selama perbuatan tersebut tidak melanggar syariat. Karena
segala sesuatu yang dilakukan, selama tidak berhubungan dengan permasalahan
ibadah, dan selama tidak ada dalil yang melarangnya, maka hukum asalnya adalah
boleh, sebagaimana telah diterangkan oleh para ulama dan fuqaha.
Permasalahannya, jika kita perhatikan dan pelajari secara lebih
dalam, hal-hal yang bisa mendatangkan dan menimbulkan kepuasan hati,
ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa yang banyak digemari orang saat ini,
pada kenyataannya tidak mungkin dapat dipisahkan dari praktek ibadah, bahkan
sangat berkaitan erat dengan masalah aqidah yang letaknya di dalam hati,
sedangkan hati merupakan sumber dari kebaikan atau keburukan seseorang,
sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“…Ketahuilah,
sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila ia (segumpal
daging) tersebut baik, baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia (segumpal
daging) tersebut rusak (buruk), maka rusaklah (buruklah) seluruh jasadnya.
Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati”.
Oleh karena itu, jika ingin selamat dari hal-hal yang dapat
merusak agama kita, bahkan dalam hal aqidah, hendaknya seorang muslim
senantiasa berhati-hati dan waspada, serta penuh pertimbangan demi keselamatan
agamanya, dan bertanya, apakah perbuatan yang hendak dilakukan untuk pencarian
kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwanya bertentangan dengan
aqidah? Ataukah bagaimana?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,”Karena hati
itu diciptakan untuk diketahui kegunaannya, maka mengarahkan penggunaan hati
(yang benar) adalah (dengan cara menggunakannya untuk) berpikir dan menilai.
Berkaitan erat dengan permasalahan ini, sesungguhnya Allah SWT telah
memberikan solusi bagi setiap muslim yang senantiasa ingin mendapatkan kepuasan
hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa yang hakiki dan abadi. Allah SWT berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati
mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati
Allah-lah hati menjadi tentram.”(Q.S. ar-Ra’d:
28).
Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah-
berkata,”……Sesungguhnya al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah telah menyebutkan di
dalam kitab beliau yang sangat berharga, al-Wabil as- Shayyib sebanyak tujuh
puluh sekian faidah dzikir. Dan di sini, kami akan sempurnakan untuk
menyebutkan beberapa faidah dzikir lainnya, dari sekian banyak faidah yang
telah beliau sebutkan di dalam kitabnya. Di antara faidah-faidah dzikir yang
begitu agung, yaitu (dzikir) dapat mendatangkan kebahagiaan, kegembiraan, dan
kelapangan bagi orang yang melakukannya, serta dapat melahirkan ketenangan dan
ketenteraman di dalam hati orang yang melakukannya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala pada surat ar-Ra’d di atas.
Kemudian beliau kembali menjelaskan dan berkata,”Makna firman
Allah (وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم) adalah hilangnya segala sesuatu (yang berkaitan
dengan) kegelisahan dan kegundahan dari dalam hati, dan dzikir tersebut akan
menggantikannya dengan rasa keharmonisan (ketenteraman), kebahagiaan, dan
kelapangan. Dan maksud firmanNya (أَلاَ
بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ) adalah sudah nyata, dan sudah sepantasnya
hati (manusia) tidak akan pernah merasakan ketentraman, kecuali dengan dzikir
(mengingat) Allah SWT.
Bahkan, sesungguhnya dzikir adalah penghidup hati yang hakiki.
Dzikir merupakan makanan pokok bagi hati dan ruh. Apabila (jiwa) seseorang
kehilangan dzikir ini, maka ia hanya bagaikan seonggok jasad yang jiwanya telah
kehilangan makanan pokoknya. Sehingga tidak ada kehidupan yang hakiki bagi
sebuah hati, melainkan dengan dzikrullah (mengingat Allah). Oleh karena itu,
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Dzikir bagi hati, bagaikan air bagi
seekor ikan. Maka, bagaimanakah keadaan seekor ikan jika ia berpisah dengan
air?”
Dari penjelasan yang begitu gamblang di atas, jelaslah
sesungguhnya tidak ada penawar bagi orang yang hatinya gersang dan selalu
gelisah, resah, dan gundah, melainkan hanya dengan dzikrullah.
Dzikrullah dapat dilakukan dengan dua cara, dengan mengingat Allah
dan banyak berdzikir dengan bertasbih, bertahmid, bertahlil (mengucapkan Laa
ilaha illallaah), ataupun bertakbir. Dan dengan memahami makna-makna al-Qur`an
dan hukum-hukumnya, karena di dalam al-Qur`an terdapat dalil-dalil dan
petunjuk-petunjuk yang jelas, serta bukti kebenaran yang nyata.
Namun, yang amat disayangkan, masih banyak kaum Muslimin yang
belum memahami hal ini. Bahkan, untuk mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman
hidup dan ketenangan jiwa, justru mencari-cari solusi selainnya. Padahal
kepuasan hati, ketentraman hidup dan ketenangan jiwa yang hakiki tidaklah
mungkin dihasilkan melainkan hanya dengan dzikrullah.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “…Sesungguhnya, hati
tidak akan (merasakan) ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian, melainkan jika
pemiliknya berhubungan dengan Allah SWT (dengan melakukan ketaatan kepada-Nya)…
sehingga, barangsiapa yang tujuan utama (dalam hidupnya), kecintaannya, rasa
takutnya, dan ketergantungannya hanya kepada Allah semata, maka ia telah
mendapatkan kenikmatan dari-Nya, kelezatan dari-Nya, kemuliaan dari-Nya, dan
kebahagiaan dari-Nya untuk selama-lamanya”.
Penjelasan beliau ini, juga menujukkan pemahaman, bahwa jika
seseorang meninggalkan ketaatan kepada Allah SWT, atau bahkan bermaksiat kepada-Nya,
maka hatinya akan sempit, gersang, selalu gelisah, resah, dan gundah.
Sebagaimana firman Allah SWT:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن
ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Dan
barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam
keadaan buta”. (Q.S.Thaha : 124).
Salah satu penafsiran ulama
tentang lafazh (مَعِيشَةً ضَنكاً) pada surat Thaha ayat ke-124 di
atas adalah, kehidupan yang sangat sempit dan menyulitkan di dunia ini,
disebabkan berpalingnya ia dari kitabullah dan dzikrullah. Ia akan merasakan
kesempitan, kegelisahan, dan kepedihan-kepedihan lainnya dalam kehidupannya,
dan itu adalah adzab secara umum.
Adapun kadar kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa
seseorang, itu sangat bergantung kepada sejauh mana kedekatannya kepada Allah SWT.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : “Kelezatan (yang dirasakan oleh
hati) setiap orang, bergantung pada sejauh mana keinginannya dalam mendekatkan
diri kepada Allah SWT, dan (keinginannya dalam meraih) kemuliaan diri-Nya. Adapun
orang yang paling mulia jiwanya, yang paling tinggi derajatnya dalam merasakan
kelezatan (dalam hatinya), adalah (orang yang paling) mengenal Allah, yang
paling mencintai Allah, yang paling rindu dengan perjumpaan dengan-Nya, dan
yang paling (kuat) mendekatkan dirinya kepada-Nya dengan segala hal yang
dicintai dan diridhai oleh-Nya.”
Itulah dzikrullah dan tha’atullah, sebagai kunci utama untuk
membuka hati seseorang dalam merealisasikan kepuasan hati, ketenteraman hidup
dan ketenangan jiwanya. Sedangkan tingkatan tha’atullah yang paling tinggi dan
agung adalah tauhidullah (mentauhidkan Allah). Dan (sebaliknya), tingkatan
maksiat yang paling besar dosanya dan paling buruk akibatnya, adalah asy-syirku
billah (menyekutukan Allah). Dengan kata lain, orang yang paling berbahagia,
tenteram, dan tenang jiwanya adalah seorang muslim yang bertauhid dan
merealisasikan tauhidnya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan orang yang
paling sengsara hidupnya di dunia ini, dan tidak merasakan kebahagiaan,
ketenangan, dan ketentraman jiwa yang hakiki dan abadi, adalah orang yang
musyrik dan bermaksiat kepada Allah SWT.
BERINTERARAKSI BERSAMA ALLAH
Kemudian, adakah hal lainnya setelah berbuat baik, dzikrullah dan
tha’atullah yang secara khusus mampu mendatangkan kepuasan hati, ketenteraman hidup
dan ketenangan jiwa seseorang? Jawabnya, ada Yaitu shalat.
Hendaknya seorang mukmin menyibukkan dirinya untuk meraih kepuasan
hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwanya dengan melakukan shalat secara
benar dan khusyu’. Dengan demikian, ia merasa tenang ketika berhadapan dengan
Rabb-nya. Hatinya menjadi tentram, lalu diikuti ketenangan dan ketentraman
tersebut oleh seluruh anggota tubuhnya. Dari sini, ia akan merasakan kedamaian
hati dan ketenangan jiwa yang luar biasa. Dia memuji Rabb dengan segala macam
pujian di dalam shalatnya. Bahkan, ia berkata kepada Rabb-nya إِيَّاكَ
نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (hanya Engkaulah yang kami sembah
dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Dia memohon kepada Rabb-nya
segala kebutuhannya. Dan yang terpenting dari seluruh kebutuhannya adalah
memohon untuk istiqamah (konsisten) di atas jalan yang lurus. Yang dengannya
terwujudlah kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dia pun berkata اِهْدِنَا
الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ (Tunjukilah kami jalan yang lurus). Dia mengagungkan Rabb-nya
saat ruku’ dan sujud, dan memperbanyak doa di dalam sujudnya.
Betapa indah dan agungnya komunikasi yang ia lakukan dengan
Rabb-nya. Sebuah komunikasi yang sangat luar biasa, mampu menumbuhkan ketentraman
dan kedamaian jiwa, sekaligus menjauhkan dirinya dari segala macam kegelisahan,
keresahan, dan kesempitan hati dan jiwanya. Maka, tidak perlu heran, jika
shalat ini merupakan penghibur dan penghias hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
… وَجُعِلَتْ قُـرَّةُ
عَـيْـنِيْ فِي الصَّـلاَةِ .
“…dan telah
dijadikan penghibur (penghias) hatiku (kebahagiaanku) pada shalat.”
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, setelah menjelaskan
hikmah-hikmah dan beberapa keistimewaan shalat, beliau berkata : “… Kemudian,
disyariatkan baginya untuk mengulang-ulang raka’at ini satu per satu,
sebagaimana disyariatkannya mengulang-ulang (lafazh) dzikir dan doa satu per
satu. Hal itu agar ia mempersiapkan dirinya dengan raka’at yang pertama tadi,
untuk menyempurnakan raka’at yang berikutnya. Sebagaimana raka’at yang kedua
untuk menyempurnakan raka’at yang pertama. Semuanya itu bertujuan untuk memenuhi
hatinya dengan makanan (rohani) ini, dan mengambil bekal darinya untuk
mengobati penyakit yang ada dalam hatinya. Karena sesungguhnya kedudukan shalat
terhadap hati, bagaikan kedudukan makanan dan obat terhadapnya… Maka, tidak ada
satu pun yang mampu menjadi makanan dan bagi hatinya, selain shalat ini.
Maksudnya, (fungsi) shalat dalam menyehatkan dan menyembuhkan hati, seperti
(fungsi) makanan pokok dan obat-obatan terhadap badannya”.
Dr. Hasan bin Ahmad bin Hasan al Fakki berkata,”Tatkala shalat dijadikan
sebagai pembangkit ketenangan dan ketenteraman (jiwa), serta sebagai terapi
psikologis, maka, tidak mengherankan jika sebagian dokter jiwa menganggapnya
sebagai terapi utama dalam penyembuhan para pasien penyakit jiwa. Salah seorang
di antara mereka ada yang mengatakan, sepertinya shalat ini salah satu terapi
yang mampu mendatangkan kehangatan jiwa manusia. Sesungguhnya shalat bisa
menjauhkan dirimu dari segala kesibukan yang membuatmu gundah dan resah. Shalat
ini pun mampu membuatmu merasa tidak menyendiri dalam hidup ini. Mampu
membuatmu merasakan bahwa Allah menyertaimu. Shalat pun ternyata mampu
memberimu kekuatan dalam bekerja, yang sebelumnya dirimu tidak mampu berbuat
apa-apa. Maka, pergilah ke kamar tidurmu! Lalu, mulailah melakukan shalat untuk
menghadap Rabb-mu.”
Dr. Hasan bin Ahmad bin Hasan al-Fakki kembali menjelaskan:
“Adapun sebuah shalat yang permulaannya adalah pengagungan dan pemuliaan
terhadap Allah SWT dan shalat ini mengandung firman-Nya, pujian dan pengagungan
kepadaNya, rasa tunduk yang sempurna si pelakunya kepada Rabbnya, maka tidak
ragu lagi, shalat seperti inilah yang mampu menjadi perantara seorang hamba
dalam berkomunikasi dengan Rabb-nya. Shalatnya ini bermanfaat baginya untuk
memohon kepada Rabb agar (Dia) membebaskan dari segala kesulitan. Di samping
itu, ia pun akan mendapatkan manfaat dan pahala yang besar di akhirat, serta
kemenangan dengan mendapatkan ridha ar-Rahman (Allah Subhanahu wa Ta’ala). Dan
kiaskanlah terhadap shalat ini seluruh ketaatan hamba terhadap Rabb-nya.
Sungguh agama Islam adalah sebuah manhaj (metode, tata cara dan pola hidup)
yang sempurna, yang sangat adil. Menjamin setiap orang bisa mencapai hidup
bahagia di dunia dan akhirat. Dan ini sebagai sebuah kemenangan yang besar.
Semakin banyak kita mengingat Allah, pikiran kita akan semakin
terbuka, hati akan semakin tenteram, jiwa akan semakin bahagia dan nurani akan
semakin damai sentosa. Itu karena dalam mengingat Allah terkandung nilai-nilai
ketawakkalan kepada-Nya, ketergantungan hanya kepada-Nya, kepasrahan tercurah
kepada-Nya, berbaik sangka terhadap-Nya, dan pengharapan kebahagiaan hanya
dari-Nya.
MENCARI
HIDAYAH TUHAN
Hijrah 5
WAHAI DIRI
SADARLAH !!
وَلَنُذِيقَنَّهُمْ
مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Dan sesungguhnya
Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia)
sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke
jalan yang benar).(Q.S. as-Sajadah: 21)
T
|
eknologi semakin canggih, malangnya
jiwa manusia semakin tak bersih. Maka dengan kotoran jiwa itulah manusia
mengendalikan teknologi. Akibatnya, hidup semakin susah. Bukan susah karena
aspek fisik dan materi, akan tetapi semakin
meresahkan jiwa, perasaan dan mental.
Dengan segala macam alat perhubungan yang semakin maju,
manusia semakin kreatif menciptakan dosa. Suami mencari kembali kekasih lama.
Istri mengumbar masalah rumah tangganya di media sosial (facebook). Suatu setatus
memfitnah setatus yang lain. Pihak yang lain membalas pula dengan kata nista
dan hina.
Manusia terpaksa membayar harga yang sangat mahal untuk
semua yang diistilahkan sebagai “pembangunan” dan “kemajuan”. Ini adalah “
tuhan baru” yang disembah setiap hari dengan melupakan segala prinsip dan nilai
yang lebih suci dan maknawi. Manusia telah bertukar menjadi “ hewan
berteknologi” yang mengakibatkan
hilangnya peran hakiki sebagai suami, isteri, anak, pemimpin, pengikut, pekerja
dan majikan.
Suami berburu dunia maya, lalu meninggalkan alam nyata. Tak
peduli keadaan sekitar, hanya terfokus kepada jari telunjuk yang mengarah
kelayar kaca. Begitu juga isteri yang mengumbar aurat, menjual marwah,
mengabaikan hak suami dan anak-anak sudah menjadi hal biasa.
Kadang terlihat dua orang saling berhadapan tidak berbicara sama
sekali, karena salah satu atau keduanya sibuk main HandPhone, kalaupun bicara
akhirnya tidak nyambung dan muncul sikap tidak peduli, ketika punya masalahpun
tidak lagi mendatangi keluarga yang jauh bahkan yang terdekat sekalipun.
Gerak petualangan akan hebatnya bumi juga sudah diganti hanya
dengan gerakan telunjuk dan jempol. Pahala-pahala berterbangan sia –sia sebagai
resiko terburuk yang mungkin dimiliki, Sedangkan kita tidak kemana-mana dan
memilih untuk diam tidak melakukan apapun selain gerakan jempol dan jari pada
layar kecil yang penuh sihir itu.
Begitu juga remaja muslim, semakin sulit dikawal. Seks bebas
meraja lela, obat terlarang ada dimana-mana. Akibatnya ? setiap 18 menit,
seorang anak luar nikah dilahirkan dan puluhan remaja mati karena mengkonsumsi
obat terlarang. Semua ini azab yang dekat sebelum azab besar di akhirat. Supaya
dengannya kita kembali merujuk kepada Allah SWT. Sebagaimana yang dijelaskan
pada surah as-Sajadah diatas.
DAMPAK TEKNOLOGI
Dahulu ilmu dikejar, ditulis, dihafal,
diamalkan dan diajarkan. Sekarang, ilmu diunduh, disimpan, dikoleksi, lalu
diperdebatkan. Dahulu , butuh peras keringat, banting tulang, dan menempuh
jarak yang jauh untuk mendapatkan ilmu. Sekarang, cukup peras kuota internet
sambil duduk manis ditemani secangkir minuman dan snack.
Dahulu, ilmu disimpan didalam hati,
menambah keimanan dan ketawaduan sehingga ilmu tetap terjaga dan bermanfaat
baik untuk orang yang memilikinya maupun yang menerimanya.
Sekarang, ilmu disimpan didalam gadget,
laptop, dan computer, tidak berpengaruh bagi kehidupan dan tidak berdampak
untuk perilaku dan sifat apalagi bermanfaat bagi yang memilikinya.
Dahulu, harus duduk berjam-jam dihadapan
guru, penuh rasa hormat dan sopan, sehingga ilmu merasuk kedalam jiwa bersama
dengan keberkahan yang didapatkan. Sekarang, cukup tekan tombol atau layar
sambil tidur-tiduran. karenanya ilmu merasuk bersama kemalasan yang tanpa
disadari keberadaanya.
Saudaraku, kita telah sampai
diamana bicara tanpa perlu suara,
melihat tanpa perlu menatap, memanggil tanpa perlu teriak, bertamu tanpa perlu
berkunjung. Hingga bicara hanya perlu
klik saja, melihat hanya perlu klik saja, memanggil hanya perlu ping saja,, bertamu
hanya perlu chat saja.
Sosial media telah menjadi budaya dan
al-Qur’an pun semakin terlupakan. Saat ini teknologi menjadi syaitan sembahan
bagi setiap orang. Banyak yang awalnya hanya melihat-lihat, sampai mereka
beradu pendapat, dari yang sekedar
coba-coba, hingga melakukan sesuatu
yang nyata, dari tingkah yang
dibuat-buat, sampai terang-terangan maksiat, hingga tidak sadar jemari ini
terkadang berkhianat, menulis sesuatu yang tidak bermanfaat, hingga tidak sadar
mata ini berkhianat melihat sesuatu yang
seharusnya tidak dilihat.
Wahai diri ingatlah! Mata ini
akan menjadi saksi atas apa yang kita lihat, jemari ini akan menjadi bukti atas
apa yang kita tuliskan. Suatu hari apapun yang kita lakukan dengan anggota
badan akan menjadi saksi dihadapan sang pencipta, maka dapatkah kita membantah
dan menentangnya?
Saudaraku, Sadarlah!! jangan biarkan dia menjadi musuh kita dihari
perhitungan nanti, gunakanlah dia sebagai ladang amal, ladang dimana kita bisa
menanamkan kebaikan dari apa yang kita lihat, dari segala apa yang kita buat,
dan dari apa yang kita ketik dilayar kecil (hp), jangan menyia-nyiakan kesempatan baik demi
hal yang buruk yang selama ini kita menyukainya. Karena semua itu
merupakan bentuk nikmat yang membawa azab yang dekat sebelum azab besar di
akhirat. Supaya dengannya kita kembali merujuk kepada Allah SWT.
BATU-BATU KECIL
Tuhan memanggil kita. Allah SWT “melambai” agar kembali
kepadanya. Dia melontar kita dengan “ batu-batu kecil” ( ujian –ujian kecil )
agar kita sadar atas segala dosa yang telah kita lakukan. Allah SWT terlalu
sayang kepada kita dengan tidak mengazab kita dengan “ batu-batu besar”. Tuhan
memanggil kita melalui manisnya ketaatan. Namun, ingat ada masanya Dia
memanggil kita melalui azab yang besar,
jika kita mengabaikan batu –batu kecil-Nya.
Bagi suami yang mencari cinta baru, lalu meninggalkan isteri
dan rumah tangganya dalam keadaan haru, tunggulah bicara dosanya nanti. Suami
yang durhaka akan ditipu oleh bahagia sesaat. Nanti dia akan menjerit lebih
perih daripada apa yang diderita oleh istri dan anak-anaknya.
Begitu juga isteri yang durhaka. Belailah kembali suami dan
anak-anak dengan ketaatan dan kelembutan, sebelum dirinya didera oleh
kemarahan, kebosanan,dan kemurungan yang berkepanjangan.
Begitu juga pemimpin yang tidak adil, menyuap dan menipu
daya. Semakin tinggi ia melonjak, semakin sakit apabila ia terhenyak! Setiap
yang haram itu racun. Setiap yang durhaka itu pasti akan mendapatkan balasannya
dari Allah SWT.
KEMBALI KEPADA KEBENARAN
Lalu bagaimana kini? Tidak ada jalan lain. Kembalilah kepada
tuhan.
Carilah kebenaran itu yang datang daripada-Nya dan
hadirkanlah ia dalam diri, keluarga dan masyarakat. Barang siapa yang mencari
kebenaran, insyaAllah ia akan mendapatkan hidayah dan inayah-Nya.
Kebenaran itu bukan hanya dengan mengikut cara hidup orang
berkuasa dan kaya raya, karena terbukti dalam sejarah betapa banyak orang yang
berkuasa dan kaya raya menyeleweng dari kebenaran. Lihat saja betapa angkuhnya
Firaun, Namrud, Haman, dan Qorun yang mempunyai segala-galanya, tetapi akhirnya
binasa karena tidak mendapat kebenaran. Begitu juga kaum Ad dan Tsamud,
semuanya musnah terkubur ditelan bumi dan kini hanya tinggal sejarah.
Berhati-hatilah karena kebenaran itu juga bukan dengan mengikut
suara mayoritas. Allah SWT Telah mengesankan dalam al-Qur’an bahwa sedikit
sekali hambanya yang bersyukur. Malah Allah
mengatakan dalam firmannya;
“ sekiranya kamu mengikuti kebanyakan
manusia, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”
(Q.S. al-An’am:116)
Lebih –lebih lagi pada akhir zaman, ketika islam akan
kembali ter-asing (terpinggir) seperti awal kemunculannya. Suara kebenaran akan
menjadi semakin minoritas yang menyebabkan ummat islam menjadi lemah dan tak
berdaya. Yang akibatnya kejahatan dan kezoliman akan merajalela dan tak ada
yang mampu untuk membendungnya. Kalau begini siapa yang harus disalahkan ? dan kemana harus mengadu?
KEMBALI MENCARI TUHAN
Jalan satu-satunya hanya dengan kembali kepada Tuhan,
sebagai tempat mencari kebenaran. Allah SWT Berfirman yang artinya:
“ kebenaran itu daripada tuhanmu, jangan kamu
menjadi orang yang ragu-ragu.” (Q.S. al-Baqarah : 147)
Setiap yang datang dari Allah adalah kebenaran dan
tegakkanlah dengan daya dan upaya. InsyaAllah kita akan Berjaya. Berjaya
didunia dengan mendapat kesenangan hidup secara halal dan baik. Paling penting,
Berjaya mendapat ketenangan hidup dengan mendapat “Qalbun saliim” yaitu hati sejahtera yang tanpa dosa.
Kemudian anggaplah ketaatan itu hanya kecil dihati kita agar
ia menjadi besar disisi Allah SWT. Namun jangan sekali-kali menganggap dosa dan
kedurhakaan itu sesuatu yang remeh. Karena ia dapat mengahantarkan kepada
kemungkaran dan kemaksiatan yang nyata. Sebaliknya , anggaplah kejahatan itu
besar dihati kita, agar ia menjadi kecil disisi Allah SWT.
Marilah kita sadari bahwa “tangisan” si fasik karena menyesali akan dosa besarnya lebih
disukai Allah SWT. Daripada “keangkuhan” seorang ahli ibadah yang tertipu karena merasa hebat
akan kebesaran amalnya. Sekiranya tidak mampu menangis dengan
dosa-dosa kita, namun janganlah kiranya hati kita “ biasa-biasa “ saja dengan
dosa itu.
Dengarlah bisikan tuhan, penuhilah panggilan-Nya.
berusahalah untuk mengerjakan apa yang ia perintahkan dan Jauhilah apa yang telah
Ia larang, Agar petunjuk dan hidayah-Nya menghampiri kita. Jika tidak,
tunggulah teguran dan azab Allah yang akan datang apabila kita terus –menerus
durhaka dan berbuat dosa.
MENCARI
HIDAYAH TUHAN
Hijrah 6
AKU MEMERLUKANMU KARENA
AKU MENCINTAIMU
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا, إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا , وَإِذَا مَسَّهُ
الْخَيْرُ مَنُوعًا.
“Sesungguhnya manusia diciptakan
bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh
kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Q.S. Al
Ma’arij: 19-21).
B
|
anyak hal terjadi dalam kehidupan
ini yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Allah SWT menciptakan ujian-ujian
bagi manusia untuk mengetahui mana manusia pilihan yang benar-benar mencintai-Nya
dan mana manusia yang melalaikan-Nya.
Amat besar bedanya antara ungkapan “aku mencintaimu karena
aku memerlukanmu” dengan “aku memerlukanmu karena aku mencintaimu.”
Ungkapan kedua lebih murni dan suci sifatnya. Itulah cinta
yang sesungguhnya dan ikhlas karena Allah SWT. Begitulah seharusnya cinta kita
kepada Allah SWT. Kita pasti memerlukan Allah karena kita memang mencintainya.
Jangan kita mencintai Allah hanya ketika kita memerlukan-Nya. itu cinta yang
palsu. Cinta yang fokus pada kepentingan sendiri, bukan kepada Allah, zat yang
mesti dicintai.
Berapa banyak diantara kita ketika dilanda masalah, susah,
gagal, terhimpit, sakit dan miskin baru merayu dan merintih kepada Allah.
Ketika berada dalam kesulitan baru memperbaiki ibadah dan akhlaknya. Panjang
doa dan sholatnya. Namun ketika masalah selesai dan hajat yang diinginkan sudah
tercapai, dia kembali lalai, kufur, dan bahkan durhaka kepada Allah SWT. Tuhan
diperlukan hanya pada waktu-waktu sulit saja. Sewaktu senang, tuhan kembali
dipinggirkan dan dilupakan. Apakah ini yang dinamakan cinta?
CINTA YANG RAPUH
Ibadah orang yang mencintai Allah SWT hanya ketika sedang
terdesak adalah cinta yang sangat rapuh. Apabila Allah SWT memberikan apa yang
ia minta, ia menjadi lupa kepada pemberinya. Sebaliknya apabila yang ia minta
tak kunjung tiba, ia menjadi kecewa, marah dan putus asa, dan mengatakan bahwa
Allah SWT tak peduli padanya, tak pernah adil dengan dirinya dan ia selalu
menyalahkan Allah dalam kehidupannya.
“ Mengapa tuhan tidak
memperkenankan doaku?”
“Mengapa setelah lama aku berbuat
baik, keadaanku masih seperti ini?”
Dia seakan-akan mendesak, bahkan memaksa dan menggugat tuhan
dalam ibadat dan munajatnya. Luntur dan
gugur sifat kehambaan saat meminta. Secara tak sadar ia menjadi peminta yang
ego. Ingatlah pesan Rasulullah SAW sewaktu senang,
“Barang
siapa yang ingin dibantu Allah SWT Saat ditimpa malapetaka dan kesempitan, maka
perbanyaklah berdoa sewaktu lapang / senang .( H.R.al-Tarmizi )
Justru dalam hadis ini menerangkan, jika benar mencintai
Allah, maka ingatlah ia di saat lapang dan senang. Tapi kebanyakan kita hanya
berdoa disaat malapetaka menimpa, sedangkan dimasa lapang dan senang selalu
lupa dan cenderung mengabaikannya.
CINTA TANPA SYARAT
Jangan pernah samakan keperluan kita kepada tuhan dengan
lampu Aladin. Digosok dan dielus hanya apabila diperlukan. Kita beribadah bukan
karena yang lain-lain, akan tetapi semata-mata karena mengharapa ridho dari
Allah SWT. Kita mencintai Allah SWT Karena memang kita mencintai-Nya, bukan
karena mencintai diri kita. Jika demikian, Allah akan senentiasa dihati kita,
baik disaat senang dan susah, disaat sempit dan lapang disaat diatas dan
dibawah. Inilah hakikat cinta yang sebenarnya.
Itulah cinta sejati. Cinta yang menafikan kepentingan dan
keperluan diri demi yang dicintai. Mereka tidak sekali-kali tega untuk “menduakan“ cinta dengan selain-Nya. tidak ada
syirik dalam ibadah dan aqidah, karena dalam hati mereka hanya ada cinta yang
satu yaitu cinta kepada Allah SWT. Cinta orang mukmin hanya untuk Allah SWT. Cinta
itu bukan cinta biasa, tetapi cinta luar biasa. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan orang mukmin itu sangat cinta kepada
Allah SWT.” (Q.S.al-Baqarah : 165 )
Dalam hati tidak akan mungkin ada riya dan sum’ah, karena
hal itu tidak dapat memberi kepuasan kepada hati orang yang beriman, mereka
bebas daripada godaan dunia luar, mereka bebas daripada belenggu “tuhan-tuhan
kecil” (kepentingan duniawi dan penghargaan manusia), mereka mengabdikan diri
sepenuhnya dan seluruhnya hanya kepada Allah SWT.
Masalah manusia dari dulu hingga sekarang bukan karena tidak
ada tuhan, teapi karena terlalu banyak ”Tuhan”. Terlalu banyaknya tuhan-tuhan
jelmaan ini menyebabkan keliru dan buntu dalam hidup. Kita sulit membuat
pilihan dan keputusan yang tepat dan cepat
karena terlalu banyak yang kita pertimbangkan.
Sebaliknya, ikhlas itu bebas. Jika hati tulus, jalan hidup
akan lurus. Hati tidak akan terganggu oleh tuhan-tuhan jelmaan (pujian-pujian)
yang dibuat oleh manusia. Itulah hati yang bahagia. Dalam hati itu selalu ada
bisikan :” Ya Allah ! aku memerlukanmu karena aku mencintaimu.” Dan itulah
seharusnya yang kita lakukan sebagai seorang hamba yang penuh kelemahan dan
kekurangan ini. Rasulullah SAW pernah berpesan kepada kita dalam hadisnya:
“Sesungguhnya
Allah tidak memandang kepada rupa manusia, juga tidak kepada hartanya, akan
tetapi Dia melihat kepada keikhlasan hati dan amal hambanya.” (Musnad Ahmad
II/ 539).
Allah tidak pula melihat bentuk dari rupa dan juga banyak
harta yang kita miliki disaat mengabdikan diri kepada-Nya, Ia hanya melihat isi
hati kita yang sebenarnya. Apakah kita beribadah ikhlas karena-Nya atau karena
tuhan-tuhan jelmaan yang telah dibuat-buat oleh manusia.
MENCARI
HIDAYAH TUHAN
Hijrah 7
KUASAI DUNIA
TAPI JANGAN MENCINTAINYA
اعْلَمُوا
أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ
الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا
وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah,
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga
tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya
mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat
warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang
keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini
tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(Q.S. Al-Hadiid:
20)
S
|
etiap yang dilahirkan manusia baik
pikiran ataupun tindakan adalah berasal dari hati. Kalau baik hatinya maka
baiklah seluruh perbuatan dan tindakannya. Begitu juga sebaliknya, kalau jahat
hatinya, maka jahat pulalah seluruh anggota badannya. Kedatangan Rasulullah
SAW. Untuk memperbaiki akhlak manusia mendapat keberhasilan karena Baginda
berhasil mendidik “hati” manusia. Oleh karena itu, jika kita ingin berhasil melahirkan
pribadi yang baik, maka pendidikan hati hendaklah dilaksanakan terlebih
dahulu.
Sayangnya tidak semua manusia mengetahui betapa pentingnya
peran hati terhadap prilaku manusia. Karenanya banyak manusia yang gagal dalam
membangun hidup yang aman dan damai. Manusia tidak berhasil mendidik hati
bahkan tidak mampu mengobati hati yang telah merusakkan perbuatan zahir seseorang.
Kebanyakan manusia lebih mengutamakan penyakit zahir
daripada ambil pusing tehadap penyakit batin ( hati ). Penyakit hati yang
dimaksud disini bukanlah jantung atau kanker, akan tetapi penyakit mazmumah
seperti riya, angkuh, dengki, ego,tamak, pemarah dan lain sebagainya. tidak ada
alat medis yang mampu mengetahui bentuk dari penyakit ini kecuali dengan
kesadaran diri yang didasarkan dengan iman dan taqwa kepada Allah SWT.
Kepentingan akan ilmu akhlak dan “
tazkiyatun nafs“ (mensucikan diri) sangat penting dalam mendidik hati yang
bersih dan ikhlas. Jadi orang-orang yang bercita-cita untuk membersihkan hati
dengan mengikuti panduan ilmu dengan mujahadah kepada Allah SWT. Itulah
sebenarnya yang sedang menempuh jalan “ tazkiyatun nafs “.
Mari kita lihat beberapa kisah ahli sufi yang bersih
hatinya, yang kemudian boleh kita ikuti jejaknya. Jika ingin menjadi seorang
sufi yang bersih haitnya jadilah seperti Umar bin Abdul Aziz yang mempunyai
harta yang melimpah dan mempunyai kekuasaan yang tinggi akan tetapi hidup dalam
kesederhanaan. Atau jadilah seperti nabi Sulaiman a.s. yang menjadi raja besar
dengan segala kemewahan dan kekuasaan tetapi makanan hariannya Cuma roti
kering.
Ya nabi Sulaiman a.s. sering melayang diatas angin
diterbangkan oleh pengawalnya dari bangsa jin. Namun, baginda sadar jika
didalam hatinya ada sebutir debu dari rasa takabbur niscaya ia akan dibenamkan
kedasar bumi sedalam ketinggian ia terbang di udara. Baginda pernah berkata: Satu
kalimat subhanallah lebih berharga bagiku daripada segala dunia dan isinya”.
Seorang sufi bukanlah orang yang memutuskan nafsunya akan tetapi ia sanggup mngendalikannya dengan mensucikan
hatinya seperti yang dilakukan Umar bin
Abdul Aziz nabi Sulaiman a.s.
Seorang yang bersih hatinya juga mampu menahan rasa sakit
sepertimana Nabi Ayyub a.s. beliau menahan penderitaan walaupun hanya tinggal
hati dan lidahnya saja yang belum terjangkit penyakit. Apabila ditanya orang
mengapa baginda tidak berdoa meminta sehat kepada Allah SWT Sedangkan baginda
seorang Nabi yang makbul doanya. Lantas baginda berkata:
“Aku
malu untuk berdoa kepada Allah karena aku baru ditimpa penyakit selama 2 tahun,
sedangkan Allah telah memberiku sehat selama 60 tahun”.
Itulah hidup yang dituntut oleh Allah SWT. Kepada kita untuk
dimiliki. Syukur berhadapan dengan nikmat, sabar berhadapan dengan ujian,
berani berhadapan dengan kezhaliman, tawaduk berhadapan dengan kebenaran. Dalam
keadaan bagaimanapun hati mereka yang suci tetap sama tanpa goyah dan berubah.
Seorang yang suci hatinya bukanlah mengalah dalam semua
suasana ketika berhadapan dengan kekufuran, tetapi sanggup berperang seperti
pribadi Nabi Muhammad SAW. Yang ada kalanya berbicara dengan pedang apabila
diserang oleh kaum musyrikin.
Seorang yang suci hatinya juga bukan orang yang lari
daripada harta, tetapi ia mampu mengendalikan harta seperti yang dicontohkan Abdul
Ramhan Bin Auf r.a. yang bertindak sebagai “Bank” kepada orang miskin dan
kelaparan.
Nah, itulah beberapa contoh pribadi yang suci hatinya yang
patut kita contoh dalam kehidupan. Bukan seperti sangkaan orang-orang sekarang
ini yang meletakkan “ kesucian hati”
sebagai perbuatan yang melepaskan kehidupan dunia seutuhnya dan tidak
menganggapnya sebagai jalan untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat.
Bila dikatakan “sucikan hati” orang akan membayangkan
seseorang yang duduk sendirian mencari tuhannya dalam khlawah dan dzikirnya
dengan tanpa memikirkan apapun yang terjadi disekelilingnya. Tidak! bukan
begitu cara hidup para rasul yang mempunyai kesucian hati. Mereka juga
berkerja, berdagang, bersosialisai, berperang dan juga beribadah.
Orang yang suci hatinya selalu memegang tasbih tetapi tangan
itu juga sanggup memgang cangkul untuk bertani, tangan itu juga sanggup untuk
memgang pena untuk memerangi kebathilan dan adakalanya tangan itu juga sanggup
memikul senjata untuk memerangi kekufuran. Mereka terlepas dari rasa angkuh dan
sombong dalam menjalani kehidupan ini. Disaat mereka susah mereka ingat kepada
Allah dan disaat mereka senang juga selalu mengingat Allah. Ketika beribadah
tidak ada rasa riya serta tidak
membutuhkan pujian. hati mereka suci dari segala yang mengarah kepada perbuatan
sia-sia. Bahkan mereka yang bersih hatinya lebih menginginkan hinaan daripada
sebuah pujian.
JANGAN MENCINTAI DUNIA
Dunia dengan segala pesonanya memang sangat menggoda dan
mempesona, dan kadang kesuksesan seseorang memang diukur dari status sosialnya
di masyarakat, namun hal tersebut jangan sampai membuat kita terjebak dan
terperangkap kepada perhiasan dunia. Segala sesuatu yang kita miliki didunia
ini tidak ada artinya; harta, gelar, pangkat, jabatan, dan popularitas tidak
akan ada manfaatnya jika tidak digunakan di jalan Allah. Cinta dunia adalah
sesuatu yang sangat berbahaya. Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini:
“Kalau
begitu, bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri
kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri
kalian. Akan tetapi, aku kahwatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian
sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian
berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana
mereka hancur.” (Hadits riwayat Muslim: 2961)
Jika seseorang mencintai sesuatu, maka ia akan diperbudak
oleh apa yang dicintainya. Jika seseorang sudah cinta dunia, akan datang
berbagai penyakit hati padanya. Ada yang menjadi sombong, dengki, serakah dan
cenderung melelahkan diri sendiri memikirkan yang tidak pasti. Makin cinta pada
dunia, makin serakah hidupnya. Bahkan, bisa berbuat keji untuk mendapatkan
dunia yang diinginkannya. Allah SWT berfirman:
“Barang
siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini
tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat,
kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di
dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Q.S. Hud: 15-16).
Ya benar, Allah akan memenuhi dan memberikan apa yang mereka
inginkan. Tapi pemberian itu hanya diperoleh di dunia sedangkan di akhirat kita
tidak mendapatkan apa-apa. Hal ini bukan kerana kita telah berbuat baik dan
mendapatkan keridhoan dari Allah, akan tetapi semata-mata hanya membuat kita terlena dan
terjerumus dalam kebinasaan dan kecintaan dunia.
Tidak ada
salahnya kita meniru tukang parkir yang memiliki rumus untuk tidak bersikap
sombong dan tidak merasa takut kehilangan sesuatu. Berapa pun banyaknya
kendaraan yang diparkir di tempatnya, tidak dia pandang sebagai miliknya.
Karena dia sadar bahwa semuanya adalah titipan. Dia pun yakin bahwa
kendaraan-kendaraan itu akan diambil kembali oleh para pemiliknya. Dia merasa
hanyalah dititipi sementara oleh pemiliknya. Dia tidak merasa sombong, padahal
di tempatnya ada banyak kendaraan mewah berderet. Saat pemiliknya akan
mengambil kembali kendaraan itu, maka dengan lapang dada dia akan
menyerahkannya.
Segala sesuatu di dunia ini yang kita anggap
milik kita, sebenarnya adalah milik Allah SWT. Dia menitipkannya kepada kita. Dan
pasti akan mengambilnya kembali. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah
mutlak milik-Nya. Kita hanya diberikan amanah untuk mengurusnya dan menggunakannya
dengan sebaik-baiknya
Semua yang sempat kita miliki di dunia akan
kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti di hadapan Allah SWT. Apakah uang
yang sempat kita miliki, kita belanjakan di jalan Allah atau tidak? Apakah
selama kita di dunia menunaikan kewajiban zakat atau tidak? Apakah rumah yang
kita tinggali digunakan untuk kepentingan ibadah ataukah tidak?.
Kita tidak perlu merasa hina karena tinggal di
rumah yang sederhana dengan furniture yang tidak bagus. Kita tidak perlu
merasa kecil hati hanya karena memiliki sedikit pakaian dalam lemari kita. Kita
tidak perlu merasa hina karena tidak memiliki kenderaan mewah. Islam telah mengajarkan
kita bahwa kekuatan dan nilai seseorang tidak diukur pada kekayaan duniawinya,
melainkan pada kekayaan hati dan jiwanya atau ketakwaannya kepada Allah SWT.
PERBEDAAN PECINTA
ALLAH DAN PECINTA DUNIA
Jangan sampai kita diperbudak oleh keinginan
duniawi semata yang hanya mengikuti dorongan hawa nafsu. Kita harus memiliki
keinginan terhadap sesuatu yang Allah lebih sukai dan ridhoi.
Di situlah letak perbedaan antara pecinta
dunia dengan pecinta Allah SWT. Keduanya memang sama-sama sibuk untuk mengejar
apa yang diinginkannya. Tapi bisa jadi dalam mengejar dunia, pecinta Allah-lah
yang lebih sibuk daripada pecinta dunia. Karena bagi pecinta Allah, setiap hal
yang dilakukannya di dunia adalah ibadah.
Ketika mengejar dunia, seorang pecinta Allah
akan sangat menjaga nilai kemuliaannya sehingga dia mendapatkan dirinya lebih
berharga dari dunianya. Jika dunianya habis, maka tidak akan hilang kemuliaan
dari dirinya. Saat mendapatkan dunianya, seorang pecinta Allah akan
mendistribusikannya untuk kepentingan akhiratnya. Dia akan mendorong orang lain
agar sejahtera dengan kekayaan miliknya.
Sebaliknya, seorang pecinta dunia akan
membelanjakan apa yang dimilikinya sekehendak nafsunya. Ia hanya akan
mendahulukan kesenangannya dan tidak peduli sama sekali terhadap orang lain.
Seorang pecinta dunia akan semangat mencari
kekayaan namun tidak peduli jika perilakunya merugikan orang lain. Ia
menghalalkan segala cara. Kedzaliman yang ia lakukan tidak ia sesali. Dengan
demikian, kedudukan pecinta dunia ini adalah lebih hina daripada dunianya.
Pertahankanlah
pribadi yang bersih, peliharalah ia sebaik-baiknya. Boleh hidup dalam
kemewahan sedangkan hati sedikitpun
tidak terpaut dengannya. Boleh menanggung derita tanpa keluh kesah. Memiliki harta
dan kuasa tanpa rasa riya. Jadilah Mereka yang mampu mengusai dunia tetapi sama
sekali tidak mencintainya.
MENCARI
HIDAYAH TUHAN
Hijrah 8
HARUSKAH MELAWAN
TAKDIR ?
دْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا
وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ. وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ
بَعْدَ إِصْلاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ
مِنَ الْمُحْسِنِينَ
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.(Q.S. Al-A'raf : 55-56).
I
|
slam adalah agama yang kaya dengan
doa. Setiap kehidupan muslim selalu dilingkari dengan doa. Jika diamati, mulai
bangkit dari tidur, melangkah, berpakaian, menyantap hidangan, menaiki
kenderaan, hingga tidur kembali, pasti ada doa yang harus kita baca. Sekurang-kurangnya
dalam syariat, apabila kita hendak melakukan pekerjaan dan perkara yang baik,
maka kita disarankan untuk membaca “bismillahirrohmanirrohim” karena
ucapan ini juga pada hakikatnya adalah sebuah doa.
Doa bukanlah pemberitahuan, tetapi doa adalah suatu
pengaduan dan harapan kita sebagai hamba kepada Allah SWT sebagai pencipta.
Kita mengadu kepada-Nya dengan sifat kerendahan dan kehambaan yang menunjukkan
bahwa kita adalah seorang hamba yang membutuhkan-Nya pada setiap aktivitas
kehidupan yang kita jalani. Ketika kita berdoa itu artinya kita memohon
kebersamaan Allah SWT dalam pekerjaan kita dan berharap Allah memberikan
keberkahan atas apa yang kita lakukan. Apabila kita melazimi doa dalam
menjalani kehidupan, maka InsyaAllah, Allah akan senentiasa bersama kita,
apabila Ia bersama kita, kita akan selalu merasa tenang.
Manusia sebenarnya lemah jika dihadapkan dengan kehidupan
yang penuh ujian dan cobaan. Sebagai hamba kita tidak tau apa yang baik untuk
hidup kita. Hal ini karena ilmu kita
sangat terbatas. Kudrat (Kempuan) kita terbatas, tetapi kudrat Allah tidak ada
batasannya. Bahkan terkadang kita tidak bisa membedakan mana yang baik dan
buruk untuk diri kita sendiri.
Sewajarnya, kita semua selalu mengharapkan yang indah-indah
dan tidak suka kepada yang buruk dalam
kehidupan. Apabila terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita
kehendaki, tentulah kita dilanda gelisah. Mengapa kita gelisah? Karena kita
menghadapi sesuatu yang berlawanan dengan kehendak kita yang sebenarnya. Suka atau
tidak suka, kita harus menghadapinya, karena hal itu merupakan takdir dari
Allah SWT. Artinya pada saat itu kita tidak bisa memilah dan memilih
takdir apa yang akan berlaku kepada
kita.
JANGAN GELISAH
Gelisah timbul karena kita memilih untuk berperang dengan
takdir. Pada saat ini, terjadilah perlawanan dengan diri sendiri. Pada saat ini
timbullah jiwa-jiwa mengeluh, Menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain
bahkan menyalahkan Allah SWT. Jiwa selalu dihantui dengan rasa ingin selalu
“menyalahkan” dan merasa tuhan tidak berbuat adil terhadap kita.
Apabila hujan, kita katakan terlalu sejuk dan lembab. Ketika
kemarau kita katakan terlalu panas dan kering. Kita senentiasa merasa ada saja
yang tidak kena. Jadi, kita selalu berperang dengan alam yang telah diciptakan
Allah SWT.
Paling bahayanya, tanpa disadari kita juga “ berperang”
dengan Allah SWT. kita menolak ketentuan Allah SWT. hal ini tentulah membuat
kita resah. Saya ingin membawa satu metafora atau sebuah bayangan. Coba
bayangkan , suatu ketika kita sedang berjalan pada waktu matahari terbenam.
Kita melihat warna alam begitu cantik. Ada warna oren, jingga, kuning, hijau
dan sebagainya. Dalam situasi seperti ini, kita biasanya hanya menikmati
lukisan alam atau mahakarya dari Allah SWT dan tak sedikitpun memikirkan hal
negatif. Dengan kata lain, kita tidak membuat perlawanan dengan lukisan alam.
Namun, mengapakah kita mempunyai sikap atau rasa hati yang
berbeda ketika menghadapi lukisan takdir? Kita selalu menimbulkan persoalan,
mengapa jadi begini? Jika kita bersahabat dengan lukisan alam, ia menimbulkan
ketenangan. Begitu juga sekiranya kita bersahabat dengan lukisan takdir, kita
akan menikmati ketenangan karena hakikatnya kedua-duanya sama datang dari Allah
SWT.
BERSAMA ALLAH TIDAK GELISAH
Walaupun manusia sebagai hamba yang lemah, bukan berarti
kita pasrah, menyerah dan tidak berbuat apa-apa. Sebagai manusia yang berpegang
kepada akidah ahli sunnah wal jama’ah, kita telah diajari supaya berusaha
dengan sekuat tenaga yang ada pada diri kita.
Namun, perlu diyakini bahwa usaha kita tidak dapat memberi
kepastian. Hanya takdir Allah SWT lah yang dapat menentukan kepastian terhadap
apa yang telah kita lakukan.
Oleh karena itu, dalam ajaran islam kita lihat mukoddimah setiap
usaha selalu dimulai dengan doa. Akhirnya pun juga ditutup dengan doa. Sebelum
kita berusaha, kita berdoa. Ketika sedang berusaha kita berdoa. Dan dalam
mengakhiri usahapun kita berdoa. Inilah yang menunjukkan kita senentiasa
bersama-sama dengan Allah SWT.
Apakah kesan dan impak apabila kita selalu bersama-sama
dengan Allah SWT?
Ketika sukses, kita bersyukur kepada Allah dan mengucap
Alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Ucapan tersebut menafikan usaha kita
walaupun berusaha dengan keahlian yang kita miliki, walaupun Berjaya, itu karena
Allah yang telah menetapkan segala sesuatunya.
ANUGRAH BERBALUT
Allah swt selalu membalut anugrahnya dengan cobaan dan
ujian. Sebagaimana halnya pembalut
hadiah yang lebih murah daripada isi yang ada didalamnya. cobaan dan ujian juga
jauh lebih murah dan mudah berbanding anugrah itu.
Ada masanya ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin,
disertai doa, dan bertawakkal, tetapi berlaku juga sesuatu yang tidak kita
inginkan. Jika berkaku demikian, terima jualah segala kehendak Allah. kita
seharusnya tidak merasa kecewa, akan tetapi terus bersangka baik kepada-Nya
karena mungkin sesuatu yang berlawanan dengan kehendak itu sebenarnya yang
terbaik untuk kita. Allah maha mengetahui, sedangakan kita tidak mengetahui.
Hadiah selalunya dibalut dengan kertas yang cantik dan
menarik. sangat jarang sekali kita menemui hadiah yang tidak dibalut. Begitu
juga dengan Allah selalu membalut anugrahnya dengan sesuatu yang sering kita
sebut dengan kepahitan. Begitulah Allah memberi sesuatu yang lebih berharga
kepada setiap hamba-hambanya. jika kita menyadari hal ini, pasti kita merasa
tenang.
Ya, pembalut hadiah kita selalu lebih murah daripada hadiah
yang ada didalamnya. Begitulah hadiah dan anugrah Allah, biasanya jauh lebih
mahal dan bernilai jika dibandingkan dengan pembalutnya. Ibarat bersabar
sebentar membuka pembalut hadiah untuk mengetahui isi yang ada didalamnya,
seterusnya menikmati hadiah tersebut. begitulah kita harus bersabar sebentar
menerima cobaan dan ujian semata-mata untuk menikmati anugrah yang masih
dirahasiakan Allah kepada kita.
Dalam melangkah mengarungi kehdiupan ini, mungkin Allah undurkan
kita seketika. Bukan karena Allah ingin menghalang-halangi dan menyekat kita.
Tetapi, Allah sengaja melakukannya agar kita mundur kebelakang mengambil sebuah
tanjakan untuk membuat loncatan yang lebih jauh.
Lihatlah orang yang hatinya berpisah dengan Allah. Apabila
Allah memberikan sesuatu yang ia kehendaki, masih tidak dapat memberikan
ketenangan dalam dirinya. Artinya ia tetap merasa gelisah walaupun segala yang
dikehendakinya sudah tercapai.
Lihatlah diktator dunia. Dimana akhir hayat mereka?
Kadang-kadang mati terbuang, terpenjara bahkan terbunuh atau mengalami sakit
jiwa. Bagaimana pula sekiranya mereka gagal tanpa kebersamaan Allah? mereka
pasti bertambah susah dan gelisah. Sebaliknya, apabila mereka gagal, mereka
tidak mampu bersabar dan kemudian marah, mudah menyalahkan takdir, setress dan
putus asa. Tegasnya apakah dia berhasil atau gagal mencapai apa yang ia
kehendaki, jika tanpa kebersamaan Allah, maka semuanya akan berakhir dengan
kemusnahan yang tidak bermanfaat bagi siapapun.
MENCARI
HIDAYAH TUHAN
Hijrah
9
WALAUPUN DUNIA TAK ADIL
TAPI ALLAH MAHA ADIL
وَنَضَعُ
الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا
وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا
حَاسِبِينَ
“Kami
akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan
seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji
sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai
pembuat perhitungan.” (Q.S. Al-Anbiya’: 47)
K
|
eadilan adalah sesuatu yang
diinginkan semua manusia termasuk kita. Namun hal ini sangat sulit kita
dapatkan dalam kehidupan. Tidak ada keadilan yang mutak didunia ini. Semakin
kita terima hakikat ini, hidup kita akan semakin tenang. Jika tidak, kita akan
selalu merasa marah, kecewa, dan merasa ditipu orang lain. Sebaliknya, apabila
kita menerima dunia memang tidak adil, maka hidup kita akan menjadi lebih
tenang dan harmoni.
Mengapa dunia ini tidak ada keadilan yang mutlak? Yang baik,
tidak seharusnya mendapatkan ganjaran dan balasan yang baik. Manakala yang
jahat, acap kali terlepas dan bebas. Beginikah dunia? Ya, inilah Kaedah Allah
menguji manusia untuk mengetahui siapa yang benar-benar ikhlas berbuat baik
kepada-Nya dan siapa pula yang hanya berpura-pura dalam kebaikannya. Inilah
ujian iman yang harus kita perhatikan.
Beberapa orang Nabi yang diutus oleh Allah seperti; Nabi
Zakaria as, Nabi Yahya as, dan Nabi yang lain dibunuh oleh musuh-musuh
kebenaran, ini untuk menguji keimanan dan keteguhan iman mereka. Sekiranya kita
sebagai suami, istri, ibu, bapak, anak-anak, pemimpin maupun pengikut menerima pelayanan
atau balasan yang tidak adil, boleh jadi Allah ingin menguji kualitas dan
keteguhan iman kita. Inilah hakikat lumrah yang harus ditempuh.
Jangan mencari serba
yang menguntungkan karena hidup selalu dipenuhi oleh kerugian, ketidak adilan
dan perlakuan yang tidak sesuai dengan keingian. Namun yang terpenting bagi
kita adalah cara menyikapi semua itu dengan hati yang ikhlas dan sabar. Walaupun
keadilan itu tidak kita dapatkan di dunia, tapi yakinlah Allah akan
memberikannya diakhirat.
Sekiranya kita berbuat baik karena mengharapkan ganjaran,
pembalasan, ucapan pujian dan terimakasih dari manusia, tentu kita akan menjadi
manusia yang penuh dengan kekecewaan. Umunya manusia memang tidak pandai berterimakasih, apalagi
untuk membalas budi. Memang betul berbuat baik dibalas baik, tetapi bukan semua
kebaikan akan diabalas “di sini” (dunia). Ada yang Allah simpan untuk
dieberikan disana (akhirat).
MENJALANI HIDUP DENGAN TENANG
Bahkan, ketika Allah menyuruh manusia melakukan kebaikan
atau meninggalkan kejahatan, Allah akan menyeru kepada orang beriman dengan
lafaz,” wahai orang-orang yang beriman.” Begitu juga kalau Rasulullah SAW
menyeru umatnya supaya melakukan kebaikan, beliau sering memulakannya dengan
berkata,” barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhirat
hendaklah..............
Sangat banyak hikmahnya Allah SWT dan Rasul SAW menyeru
dengan lafaz demikian. Salah satunya, ia menunjukkan bahwa mereka yang mau dan
mampu melakukan kebaikan serta meninggalkan kejahatan dengan ikhlas, sabar dan
istiqomah hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yaitu
mereka yang yakin bahwa Allah maha melihat dan mengetahui perbuatan tersebut
dan membalasnya dengan ganjaran yang sesuai dengan perbuatan kita lakukan.
Apakah itu ganjaran baik atau buruk. Karena Allah pasti akan membalasnya
walaupun hanya seberat biji sawi.
Dengan demikian, manusia yang beriman akan menjalani hidup
ini dengan tenang. Tidak banyak mengupat, mengeluh apalagi marah-marah dan
selalu menuntut keadilan terhadap dirinya. Jika madu dibalas tuba, mereka mampu
tabah dan bersabar. Apabila mendapat “limau yang masam” mereka akan segera
membuat “jus limau” yang rasanya manis. Maknanya, jika segala yang mereka
terima sebagai balasan tidak seperti yang mereka harapkan, mereka tidak
menyesal dan memberontak. Akan tetapi sebaliknya, mereka mengubah hati, fikiran
dan perasaan untuk menerimanya dengan berlapang dada.
Apabila menginginkan kejayaan, tetapi malah mendapat
kegagalan, mereka berkata,” tidak apa-apa, kegagalan adalah jalan menuju
kejayaan, kegagalan adalah kejayaan yang ditangguhkan. Mereka tidak mengutuk
orang lain, keadaan atau diri mereka sendiri, apalagi menyalahkan tuhan. Mereka
tidak menyesal dan kesal terhadap apa yang berlaku, sebaliknya mencari solusi
dan semangat baru untuk berusaha dengan lebih baik.
Orang yang telah menerima hakikat bahwa dunia ini tidak
adil, tidak akan bermusuh dengan diri sendiri. Dia tidak menghukum dirinya
dengan pertanyaan-pertanyaan. Mengapa aku bodoh? Mengapa aku bisa tertipu?
Mengapa aku begini dan begitu? Dan lain sebagainya. ini bukan langkah muhasabah
yang membangunkan jiwa, tetapi bentuk penekanan yang menyebabkan diri sendiri
menjadi pasif, pesimis dan murung. Kemudian penekanan itu suatu saat akan
meletus keluar yang menjadikan dirinya bertindak agresif, bersangka buruk, dan
menyalahkan orang lain.
Dalam surah Al-Fatiha ayat kedua Allah menjelaskan bahwa Dialah
raja pada hari kiamat. Kalimat ini kita ulang –ulang hingga 17 kali dalam
sehari semalam. Semoga makna atau kehendak dari kalimat ini dapat meresap dalam
jiwa kita serta sadar bahwa Allah SWT akan menunjukkan kebesaran sifat Malik-Nya
di akhirat kelak. Pada saat yang bersamaan Allah akan menunjukkan keadilannya
kepada seluruh manusia. Bagi yang baik dibalas baik dan yang jahat dibalas
dengan azab dan siksa. karena itu selagi badan masih bernafas tentukanlah pilihan yang paling tapat.
Didunia ini, penjahat atau pelaku kemungkaran masih boleh
membusungkan dada dan meninggikan suara karena kekuasaan yang ia miliki. Yang
dengan kekuasaan itu mereka menipu, menindas dan mendzalimi dengan berbagai
teknik dan cara. Namun di akhirat nanti, mereka tak mampu bicara, kaku dan
membisu apabila Allah SWT menunjukkan keadilannya.
Allah SWT menciptakan dunia ini tidak dengan serba adil sebagaimana
sifatnya, hal ini untuk menguji manusia
sejauh mana iman mereka kepada sifat keadilan Allah SWT. agar dengan itu orang
beriman rela “ disusahkan” karena Allah dalam usahanya melakukan kebaikan dan
meninggalkan kejahatan. Agar dengan itu, orang beriman akan berkata pada
hatinya,” wahai Allah! Aku rela menerima kesusahan yang sementara dan sedikit
di dunia yang serba tidak adil ini, demi mendapatkan kesenangan yang abadi dan
lebih baik di akhirat nanti!” Sehingga seandainya hati masih bertanya,” mengapa
dunia ini tidak adil?” jawabnya,” karena Allah yang maha adil akan menunjukkan
keadilan-Nya di akhirat.
MENCARI
HIDAYAH TUHAN
Hijrah 10
IKHLAS ITU
BEBAS
قَالَ رَبِّ بِمَا
أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ
أَجْمَعِينَ, إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ
الْمُخْلَصِينَ
“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab
Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka
memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan
mereka semuanya, kecuali hamba-hamba_Mu yang ikhlas di antara mereka.”(Q.S.
Al-Hijr : 39-40)
I
|
khlas adalah memurnikan tujuan untuk
mendekatkan diri kepada Allah. menghendaki keridhaan Allah dalam suatu amal,
membersihkannya dari segala individu maupun duniawi. Tidak ada yang
melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Allah dan demi hari akhirat. Tidak
ada noda yang mencampuri suatu amal, seperti kecenderungan kepada dunia untuk
diri sendiri, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.
Landasan niat yang ikhlas adalah memurnikan niat karena
Allah semata. Setiap bagian dari perkara duniawi yang sudah mencemari amal
kebaikan, sedikit atau banyak, dan apabila hati kita bergantung kepadanya, maka
kemurniaan amal itu ternoda dan hilang keikhlasannya. Karena itu, orang yang
jiwanya terkalahkan oleh perkara duniawi, mencari kedudukan dan popularitas,
tindakan dan perilakunya akan mengacu pada sifat tersebut, sehingga ibadah yang
dilakukan tidak akan murni, seperti
shalat, puasa, menuntut ilmu, berdakwah dan lainnya.
Ikhals adalah sesuatu yang tak berwujud dan tak tampak oleh
mata, namun dapat dirasakan dari kemurnian hati yang paling dalam. Walaupun ia
hal yang ringan tapi sulit untuk diwujudkan. Banyak mereka yang beramal karena ingin disanjung,
dipuji, ingin dikatakan sebagai orang yang baik, atau yang paling baik, atau
terbetik dalam hatinya bahwa dia sajalah yang konsekuen terhadap Sunnah,
sedangkan yang lainnya tidak.
Ada lagi yang belajar karena ingin lebih tinggi dari yang
lain, supaya dapat penghormatan dan harta. Tujuannya ingin berbangga dengan
para ulama, mengalahkan orang yang bodoh, atau agar orang lain berpaling
kepadanya.
CURAHAN HATIKU
“Aku berdoa agar Allah memberikanku kelurusan niat dalam
sepanjang amalku dan menutup kelemahan lidah dan hatiku dari mengungkit-ungkit
kebajikanku pada masa dahulu. Jauhkanlah aku dari jalan yang membawa kepada
kebinasaan lantaran kuatnya tarikan dunia yang memperdayakan. Sesungguhnya aku
mengharapkan bimbingan-Mu pada setiap nafasku.”
Inilah seharusnya doa yang selalu kita panjatkan disetiap
apapun yang akan dan telah kita lakukan. Supaya Allah tetap menjaga hati kita
dalam keikhlasan. Semoga Allah SWT selalu membimbing kita dalam keikhlasan aminnn.
Dikisahkan ada seorang ‘alim yang selalu shalat di shaf
paling depan. Suatu hari ia datang terlambat, maka ia mendapat shalat di shaf
kedua. Di dalam benaknya terbersit rasa malu kepada para jama’ah lain yang
melihatnya. Maka pada saat itulah, ia menyadari bahwa sebenarnya kesenangan dan
ketenangan hatinya ketika shalat di shaf pertama pada hari-hari sebelumnya
disebabkan karena ingin dilihat orang lain. Semoga kita terhindar dari yang
demikian. Rasulullah SAW bersabda;
“Barangsiapa
hijrahnya diniatkan untuk dunia yang hendak dicapainya, atau karena seorang
wanita yang hendak dinikahinya, maka nilai hijrahnya sesuai dengan tujuan niat
dia berhijrah.” (H.R. Shahih Bukhari)
Bagaimanapun juga niat merupakan perkara hati, yang
urusannya amat besar dan penting. Seseorang, bisa naik ke derajat shiddiqin dan
bisa jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan dengan niatnya. Ada seorang
ulama Salaf berkata: “Tidak ada satu perjuangan yang paling berat atas diriku,
melainkan upayaku untuk ikhlas. Kita memohon kepada Allah agar diberi
keikhlasan dalam niat dan dibereskan seluruh amal.
IKHLAS ADALAH SYARAT DITERIMANYA
AMAL
Di dalam Al-Qur`an dan Sunnah banyak disebutkan perintah
untuk berlaku ikhlas, kedudukan dan keutamaan ikhlas. Ada disebutkan wajibnya
ikhlas kaitannya dengan kemurnian tauhid dan meluruskan aqidah, dan ada yang
kaitannya dengan kemurnian amal dari berbagai tujuan. Adapun pokok dari
keutamaan ikhlas ialah, bahwa ikhlas merupakan syarat diterimanya amal.
Sesungguhnya setiap amal harus mempunyai dua syarat. Amal tidak akan diterima kecuali
dengan keduanya. Pertama Niat ikhlas karena Allah. Kedua Sesuai dengan Sunnah,
yakni sesuai dengan ajaran Kitab-Nya atau yang dijelaskan Rasul-Nya. Jika salah
satunya tidak terpenuhi, maka amalnya tersebut tidak bernilai shalih dan
tertolak. Sebagaimana hal ini ditunjukan dalam firmanNya:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ
رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa
mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia mengerjakan amal
shalih dan janganlah mempersekutukan seorangpun dengan Rabb-Nya.” (Q.S. Al-Ka
hfi : 110).
Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan agar menjadikan amal
itu bernilai shalih, yaitu sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam, kemudian Dia memerintahkan agar orang yang mengerjakan amal shalih
itu mengikhlaskan niatnya karena Allah semata, tidak menghendaki selain-Nya.
Ibnu Katsir berkata di dalam kitab tafsir-nya : “Inilah dua
landasan amalan yang diterima yaitu , ikhlas karena Allah, dan sesuai dengan Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”.
Dari Umamah, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata,”Bagaimanakah
pendapatmu (tentang) seseorang yang berperang demi mencari upah dan sanjungan,
apa yang diperolehnya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Dia
tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga
kali, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm selalu menjawab, orang itu tidak
mendapatkan apa-apa (tidak mendapatkan ganjaran), kemudian Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :
“Sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan
dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari ridho Allah.” (H.R. Nasa’i
VI/25).
KEUTAMAAN IKHLAS
Keikhlasan termasuk salah satu pokok di antara pokok-pokok
agama ini, bahkan ia merupakan poros dan sendi agama ini. Karena agama ini
dibangun di atas dasar realisasi ibadah yang merupakan tujuan manusia
diciptakan, sementara hakikat ibadah itu sendiri tidak akan ada kecuali
disertai dengan ikhlas. Keikhlasan dalam ibadah itu, ibarat ruh dalam jasad.
Jasad tanpa ruh menjadi bangkai yang tidak bernilai. Demikian pula amalan, jika
dilakukan tanpa keikhlasan maka tidak ada nilainya, bahkan suatu amalan tidak
dikatakan amal shalih tanpa keikhlasan. Sangatlah banyak keutamaan ikhlas ini
diantaranya :
Pertama : Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman.
Bahkan ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya ibadah seorang hamba.
Seseorang tidak dianggap beribadah dengan benar jika tidak ikhlas. Suatu ibadah
yang dilakukan tanpa keikhlasan tidak
akan bermanfaat sedikitpun disisi Allah bahkan bisa mendatangkan murka-Nya, Rasulullah
SAW bersabda:
“Barangsiapa
memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci
karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya.” (H.R.
Abu Dawud)
Kedua: Musuh manusia yang bernama syaithan takut dan putus asa terhadap orang- orang
yang ikhlas. Ketahuilah bahwa syaithan mengaku tidak mampu menggoda dan
menyesatkan hamba Allah yang ikhlas. Allah berfirman :
قَالَ رَبِّ
بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ
أَجْمَعِينَ. إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Iblis
berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku
sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di
muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan (manusia) mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang
mukhlis (ikhlas) di antara mereka."(Q.S. Al-Hijr: 40).
Ketiga: Orang yang ikhlas tidak bisa dizhalimi dan
tidak pernah merasa dizhalimi karena kezhaliman apapun tidak akan mampu
membuatnya tersiksa bahkan semakin mulia kedudukannya karena membuat dirinya
semakin mampu bersabar dan bersyukur. Dengan jiwa yang ikhlas ia akan
menyerahkan seluruh kehidupannya hanya karena Allah SWT dan meyakini hanya
Allahlah yang menentukan segalanya. Allah SWT berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي
وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam. (Q.S. Al-An’am: 162).
Keempat: Suatu amal kecil yang dilakukan dengan
ikhlas pasti akan mengalahkan amal yang besar tapi dilakukan tidak dengan ikhlas.
Sebagian orang melakukan amal yang besar seperti memberikan infak dalam jumlah
yang banyak, tapi ternyata tujuan utamanya adalah mengharap pujian manusia ataupun kepentingan kepentingan lain yang
tersembunyi.
Sesungguhnya yang paling utama dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya
amal yang kita lakukan. Akan tetapi keikhlasan yang kita tanamkan itu lebih
berharga walaupun amalnya sedikit. Amal yang kelihatan kecil di mata manusia tapi dilakukan
dengan ikhlas karena Allah, maka Allah
akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. tetapi
sebaliknya, amal yang besar dimata manusia tapi tidak ikhlas karena Allah maka
akan sisa-sia. Tapi yang lebih baik dari keduanya adalah amal yang banyak dan
dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT.
Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak
amalan yang kecil menjadi besar karena niat (ikhlas karena Allah), dan betapa
banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.”
Kelima: Jika landasan hidup seseorang adalah beragama
dengan ikhlas maka semua yang berat baik dalam ibadah maupun dalam berakhlak
dan bermuamalah akan terasa ringan dan semua yang sulit akan terasa mudah.
Insya Allah.
Dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 Allah berfirman:
وَمَا
أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ...
“Padahal
mereka hanya disuruh menyembah Allah dengan ikhlas mentaati-Nya
semata mata karena (menjalankan) agama.”(
Q.S. Al-Bayyinah: 5)
Allah SWT juga berfirman:
..فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Maka
sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” (Q.S Az- Zumar:
2)
keenam: Dilapangkan dari masalah yang sedang
menghimpitnya
Terkadang seorang muslim dihadapkan pada suatu masalah yang sangat sulit yang terkadang menjadikannya berputus asa dalam mengatasinya. Namun amalan-amalan yang dilakukan dengan ikhlas dapat dijadikan sebagai wasilah (perantara) dalam berdo'a kepada Allah subhanahu wata'ala untuk dihilangkannya berbagai masalah yang sedang menghimpitnya?
Terkadang seorang muslim dihadapkan pada suatu masalah yang sangat sulit yang terkadang menjadikannya berputus asa dalam mengatasinya. Namun amalan-amalan yang dilakukan dengan ikhlas dapat dijadikan sebagai wasilah (perantara) dalam berdo'a kepada Allah subhanahu wata'ala untuk dihilangkannya berbagai masalah yang sedang menghimpitnya?
Hal ini pernah menimpa tiga orang pada zaman dahulu ketika
mereka terperangkap di dalam sebuah goa. Kemudian Allah subhanahu wata'ala
selamatkan mereka karena do'a yang mereka panjatkan disertai dengan penyebutan
amalan-amalan shalih yang mereka lakukan ikhlas karena Allah subhanahu wata'ala.
Kisah selengkapnya bisa kita lihat di kitab Riyadhush Shalihin hadits no. 12
Selain keutaman-keutamaan diatas masih banyak keutamaan lain
yang akan kita dapatkan dengan berbuat ikhlas karena Allah. hanya Allah yang
mengetahui segala sesuatu. Semoga Allah senentiasa memberikan kita kekuatan
untuk selalu menjaga keikhlasan dalam melakukan setiap amal shalih. Aminnnn..ya rabbal ‘alaminnn...
MENCARI
HIDAYAH TUHAN
Hijrah
11
SHOLATLAH !!
MESKIPUN ENGKAU MAKSIAT DAN BANYAK DOSA
إِنَّ
الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ............
...Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
perbuatan-perbuatan fahsya’ (buruk/keji) dan mungkar...
(Q.S. Al- 'Ankabut :45)
U
|
mat Islam diwajibkan untuk melakukan
sholat dengan menghadap kiblat yang dikerjakan pada waktu tertentu (subuh,
dzuhur, ashar, magrib dan isya'). Sholat merupakan satu perbuatan yang
menghubungkan manusia dengan
penciptanya, perintah sholat bukan hanya diwajibkan kepada orang yang
berkelakuan baik akan tetapi lebih-lebih sholat diwajibkan kepada orang yang
selalu berbuat maksiat dan banyak dosa, agar tidak terus terjerumus kepada
kemaksiatan yang ia lakukan. Hal ini sesuai dengan janji Allah SWT bahwa sholat
dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Pada dasarnya sholat diwajibkan bagi seluruh umat Muhammad yang beragama islam yang
meyakini tiada tuhan selain Allah dan meyakini bahwa Muhammad adalah utusan
Allah. Dengan mengerjakan sholat dapat merubah sikap dan prilaku seseorang
dalam hidupnya menjadi lebih baik dimata Allah SWT dan manusia. Baca juga
(Abdurrohim harahap: mengungkap motivasi kehidupan dengan Al-Qur’an).
Tak perduli apa yang terjadi pada hidupmu, sholatlah. Tak
peduli seberapa besar dosamu, sholatlah.Tak ada celah dan alasan untuk meninggalkannya.
Dikutip dari beberapa sumber seorang perempuan pernah bertanya masalah hidup
yang dihadapinya kepada seorang ahli agama:
Seorang saudari bertanya :”Saudaraku
aku belum berhijab!
Aku katakan padanya : ”Sholatlah
!
Ia berkata: ”lihatlah aku belum
berpakaian muslim !
Aku katakan padanya : ”Sholatlah
!
Ia berkata: “Aku minum alkohol”
Aku katakan padanya: “Sholatlah “
Ia berkata: “Aku bisnis narkoba “
Aku katakan padanya: “Sholatlah “
Ia berkata: “Aku telah berzina “
Aku katakana padanya “ Sholatlah “ apapun yang
terjadi pada diri dan hidupmu, Sholatlah !
Ia berkata: “ Saudaraku bagaimana mungkin aku sholat sementara
aku bergelimang maksiat? Bukankah itu penghinaan dan aku menjadi serang yang
munafik ?
Aku katakana padanya:” tidak saudaraku karena itulah kita
sholat, manusia tidak ada yang sempurna dan selalu melakukan maksiat dan dosa, setiap
manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa namun kesalahan yang mungkin
berbeda bagi setiap individunya, maka dari itu sholatlah. Allah SWT berfirman:
“ ...sesungguhnya sholat itu mencegah
perbuatan keji dan mungkar...”
Sholatlah !!!!
Sebahagian orang ada yang berkata : “Saya perbaiki diri
dulu, kalo sudah insaf, insyallah saya akan sholat.
Saudaraku, engkau takkan bisa memperbaiki apapun jika engkau
meninggalkan sholat, Maka dari itu sholatlah saudaraku sebanyak apapun dosa
yang kamu lakukan!! Yakinlah Allah SWT tidak peduli walau dosamu sebanyak buih
dilautan dan Allah SWT maha pengampun bagi setiap kesalahan-kesalahan hambanya
yang bertaubat.
Taat itu nikmat dan bisa membunuh maksiat, siapapun yang
dapat melakukannya, ia akan terbebas dari kesesatan yang nyata. Berbuat baik
itu akan selalu mendatangkan kebaikan dan dapat pula menghapuskan kejahatan dan
dosa. Berbuatlah!! Karena perbuatan baik akan merubah pribadi menjadi lebih
baik. Jangan menunuggu menjadi peribadi
baik baru kemudian berbuat baik, akan tetapi berbuat baiklah agar pribadi
menjadi lebih baik.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah
berkata, “Sholat dikatakan dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar ialah
bahwa seorang hamba yang mendirikan sholat, menyempurnakan rukun-rukunnya,
syarat-syaratnya, khusyu’nya, maka hatinya akan bercahaya, dadanya akan menjadi
bersih, imannya akan bertambah, dan bertambah kecintaannya kepada kebaikan, dan
menjadi sedikit bahkan hilanglah keinginannya terhadap kejelekan.
Yang terpenting, terus melakukannya dan menjaganya menurut
cara seperti ini, maka sholat (yang dilakukannya itu) dapat mencegah dari
perbuatan keji dan mungkar. Dan ini termasuk tujuan dan buah yang paling besar
dari sholat. Dan di dalam sholat ada maksud yang lebih agung dan lebih besar,
yaitu kandungan sholat itu sendiri, berupa dzikir (mengingat) kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala dengan hati, lisan dan anggota badan. Karena sungguh Allah
Azza wa Jalla menciptakan makhluk hanya untuk beribadah kepada-Nya. Dan ibadah
yang paling utama dilakukan oleh manusia adalah sholat.
Perlu kita ketahui bahwa setiap amal shalih membawa pengaruh
baik kepada pelaku-pelakunya. Pengaruh ini akan semakin besar sesuai dengan
keikhlasan dan kebenaran amalan tersebut.
SHOLAT ADALAH SIMBOL KETENANGAN
Sholat menunjukkan ketenangan jiwa dan kesucian hati para
pelakunya. Ketika mendirikan sholat
dengan sebenarnya, maka diraihlah puncak kebahagiaan hati dan sumber segala
ketenangan jiwa. Dahulu, orang-orang shalih mendapatkan ketenangan dan pelepas
segala permasalahan ketika mereka tenggelam dalam kekhusyu’kan sholat.
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud rahimahullah dalam Sunan-nya: “Suatu
hari ‘Abdullah bin Muhammad al-Hanafiyah pergi bersama bapaknya menjenguk saudara
mereka dari kalangan Anshor. Kemudian datanglah waktu sholat. Dia pun memanggil
pelayannya,”Wahai pelayan, ambillah air wudhu! Semoga dengan sholat aku bisa
beristirahat, ”kami pun mengingkari perkataannya. Dia berkata: “Aku mendengar
Nabi Muhammad bersabda,’Berdirilah ya Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat!
Marilah kita mengintrospeksi diri, sudahkah ketenangan seperti ini
kita dapatkan dalam sholat-sholat kita? Sudah sangat banyak sholat yang kita
tunaikan, tetapi pernahkah kita berpikir manfaat sholat ini? Atau rutinitas sholat
yang kita tegakkan sehari-hari?
Suatu ketika seorang tabi’in yang bernama Sa’id bin Musayib
mengeluhkan sakit di matanya. Para sahabatnya berkata kepadanya: “Seandainya
engkau mau berjalan-jalan melihat hijaunya Wadi ‘Aqiq, pastilah akan
meringankan sakitmu,” tetapi ia menjawab: “Lalu apa gunanya aku sholat ‘Isya
dan Subuh?
Demikianlah, generasi terdahulu dari umat ini memposisikan sholat
dalam kehidupan mereka. Bagi mereka, sholat adalah obat bagi segala
problematika. Dengan hati mereka menunaikan sholat, sehingga jiwa menuai
ketenangan dan mendapatkan kebahagiaan.
SHOLAT SEBAGAI SOLUSI PROBLEMATIKA
HIDUP
Sudah menjadi sifat dasar manusia ketika dia tertimpa musibah dan
cobaan, dia akan mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahannya. Maka tidak
ada cara yang lebih manjur dan lebih hebat daripada sholat. Sholat adalah
sebaik-baik solusi dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan kesulitan hidup.
Karena tidak ada cara yang lebih baik dalam mendekatkan diri seseorang dengan
Rabbnya kecuali dengan sholat. Rasulullah dalam sabdanya mengucapkan:
“Posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya yaitu ketika dia
sujud, maka perbanyaklah doa. [H.R.
Muslim].
Inilah di antara manfaat shalat yang sangat agung, mendekatkan
hamba dengan Dzat yang paling ia butuhkan dalam menyelesaikan problem hidupnya.
Maka, kita jangan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Jangan sampai kita lalai
dalam detik-detik sholat kita. Jangan pula terburu-buru dalam melaksanakannya,
seakan tidak ada manfaat padanya.
Sholat bisa menjadi sarana menakjubkan untuk mendatangkan
pertolongan dan dukungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam kisah Nabi Yunus
Alaihissallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan:
“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak
mengingat Allah ( sholat), niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu
sampai hari berbangkit.” (Q.S.
as-Shafat:143-144).
Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu menafsirkan “banyak
mengingat Allah”, yaitu, beliau termasuk orang-orang yang menegakkan sholat.
Sahabat Hudzaifah Radhiyallahu anhu pernah menceritakan tentang
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Dahulu, jika Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertimpa suatu urusan, maka beliau melaksanakan
sholat.
(H.R. Abu Dawud).
SHOLAT PELEBUR DOSA
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ
النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan
petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang
buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Q.S. Hud:
114).
Bahkan dikuatkan pula dengan ayat dalam surat An Nisa’,
إِنْ
تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang
dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu
(dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).”
(Q.S. An-Nisa’: 31).
“Kesalahan-kesalahanmu”
ditafsirkan dengan dosa-dosamu yang kecil sebagaimana yang dikatakan oleh As
Sudiy. Dalam tafsir Al-Jalalain juga dikatakan bahwa yang dimaksudkan adalah
dosa-dosa kecil dan dosa tersebut dihapus dengan ketaatan (sholat).
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa dosa-dosa kecil bisa terhapus
dengan amalan ketaatan, di antaranya adalah sholat wajib. Antara sholat Shubuh
dan Zhuhur, Ashar dan Maghrib, Maghrib dan Isya, Isya dan Shubuh, di dalamnya
terdapat pengampunan dosa (yaitu dosa kecil) dengan sebab melaksanakan sholat
lima waktu.
Namun perlu diketahui bahwa dosa-dosa kecil ini bisa terhapus
dengan amalan wajib apabila seseorang menjauhi dosa-dosa besar. Pendapat inilah
yang dianut mayoritas ulama salaf. Artinya, menjauhi dosa besar merupakan
syarat agar dosa kecil itu bisa dihapus dengan amalan-amalan wajib. Jika dosa
besar tidak dijauhi, maka dosa kecil tidak bisa terhapus dengan sekedar
melakukan amalan wajib.
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Shalat lima waktu menghapuskan setiap
dosa di antara waktu-waktu tersebut selama seseorang menjauhi dosa besar.”
Salman mengatakan, “Jagalah shalat lima waktu karena shalat lima
waktu adalah pelebur dosa yang diperbuat tubuh ini selama seseorang tidak
melakukan dosa pembunuhan.”
Adapun dosa besar bisa
terhapus dengan bertaubat nasuha kepada Allah SWT memohon keamapunannya dan bertekad
tidak mengulanginya lagi. Semoga Allah mengampuni setiap dosa
kita dan memberi taufik untuk menjadi lebih baik dengan sholat dan bertaubat
pada-Nya.
MENCARI
HIDAYAH TUHAN
Hijrah 12
BERHIJABLAH!!
MESKIPUN ENGKAU BUKAN WANITA BAIK
يَا أَيُّهَا
النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ
عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا
يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai
Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita
(keluarga) orang-orang mukmin, agar mereka mengulurkan atas diri mereka (ke
seluruh tubuh mereka) jilbab mereka.
Hal itu menjadikan mereka lebih mudah dikenal (sebagai para wanita muslimah
yang terhormat dan merdeka) sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah
senantiasa Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Q.S. al-Ahzab ayat: 59).
L
|
ebih baik saya
berhijab hati dulu, daripada berhijab tetapi hatinya tidak berhijab. Mendingan
tidak usah berhijab aja, daripada kaya si A berhijab tapi masih sering berbuat
maksiat. Kalau belum siap berhijab, mendingan gak usah pakai dulu. Saya belum
bisa memperbaiki perilaku saya, saya belum siap pakai berhijab jadi saya nanti
aja pakai berhijab kalau saya sudah menjadi wanita baik. Saya sebenarnya pengen mamakai hijab, tetapi
masih belum siap. Saya sebenarnya pengen mamakai hijab, tetapi malu belum
terbiasa.
Mungkin kita sering mendengar
perkataan-perkataan seperti di atas atau yang sejenisnya. Dimana pernyataan
atau pandangan-pandangan seperti di atas menjadikan seorang muslimah tidak mau berhijab
atau beberapa diantara mereka menunda untuk berhijab.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ada di antara
para muslimah yang sudah memakai hijab ada yang masih melakukan
perbuatan-perbuatan yang tidak mencerminkan moral atau akhlak islam. Hal inilah
yang kemudian memunculkan banyak pandangan-pandangan di masyarakat yang
berpendapat seperti di atas. Mereka bersikap sinis dan pesimis terhadap hijab.
Salah satu pandangan yang banyak kita jumpai
di masyarakat adalah adanya pandangan yang mengatakan bahwa ”Lebih baik
kalau belum siap tidak usah pakai hijab dulu, daripada berhijab tetapi masih
melakukan perbuatan-perbuatan maksiat atau berakhlak buruk”. Pandangan
inilah yang juga sering mengecoh para muslimah sehingga menolak atau menunda
melaksanakan kewajibannya dalam mengenakan hijab. Kalau kita cermati pandangan
semacam ini, kita bisa analisis sebagai berikut:
Ada dua pernyataan yang bisa kita tarik dari
pandangan tersebut, yaitu:
a.
Berhijab
tetapi berakhlak buruk
b.
atau
Tidak berhijab tetapi berakhlak baik.
Pandangan yang seperti di atas menganggap
bahwa pernyataan b lebih baik daripada pernyataan a. Apakah benar demikian?
Atau Manakah di antara kedua hal tersebut yang lebih baik?
Jawabannya adalah tidak ada lebih baik dari
dua hal tersebut. Tidak ada yang lebih baik dari dua alternatif pelanggaran,
karena dari keduanya memang tidak ada yang baik. Ketika seorang muslimah telah
baligh atau dewasa maka wajib baginya untuk berhijab. Adapun masalah moral atau
akhlak itu adalah perkara yang lain dimana ada hukum tersendiri yang
mengaturnya. Dan yang harus kita imani
terlebih dahulu adalah bahwasanya berhijab adalah kewajiban yang mutlak bagi
seorang muslimah yang sudah baligh.
berhijab dalam kehidupan sehari-hari dan
ditempat umum bukan berarti menjadi tanda atau kita meminta diakui bahwa kita
sudah menjadi pribadi yang baik, bukan berarti kita ingin mengakui bahwa
kita lebih baik dari yang tidak
berhijab. berhijab itu artinya kita sedang belajar atau ingin menjadi pribadi
yang taat pada agama, pada perintah Allah bahwa wanita it u lebih baik menutup
auratnya.
BERHIJAB ADALAH
PERINTAH ALLAH
Hijab itu bukanlah sebuah penentu,
bukanlah sebuah tanda bahwa yang memakainya adalah wanita yang saleha, karena
kesalehan wanita tidak diukur dari hijab saja
namun juga perilaku. Namun setidaknya yang memakai hijab
sudah bisa menjadi tanda bahwa ia ingin menjadi wanita yang saleha. Bahwa ia
ingin terlihat cantik bukan hanya dihadapan sesama manusia saja namun juga di
hadapan Allah. Banyak
dalil-dalil tentang kewajiban berhijab;
”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu,
anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ’Hendaklah mereka
mengulurkan jilbabnya (hijabnya) ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu
supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan
Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Ahzab: 59).
Dalam
surah lain Allah juga berfirman:
”Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung
kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka,
atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau
putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau
putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan
mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” [Q.S.An-Nur: 31]
Sabda Rasulullah shallallahu ’alahi
wassalam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari ’Aisyah, katanya:
”Hai Asmaa! Sesungguhnya perempuan itu apabila
telah dewasa/sampai umur, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya
melainkan ini dan ini.” Rasulullah Shallahllahu ’alaihiwassalam berkata sambil
menunjukkan muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan tangannya sendiri.
Yang perlu diperhatikan juga adalah
bagaimana menggunakan hijab secara benar atau sesuai syar’i. Karena kalau kita
lihat di masyarakat, banyak para muslimah yang mengunakan hijab belum sesuai
dengan kriteria-kriteria syariat. Banyak kita dengar istilah ” hijab gaul”, ”
hijab modis”, dan sebagainya yang mungkin bisa saya katakan bahwa yang demikian
itu tidak bisa disebut dengan hijab. Oleh karena itu hendaknya setiap muslimah
yang memakai hijab, mempelajari bagaimana kriteria-kriteria hijab yang sesuai
dengan syariat islam.
Hijab yang sudah dikenakan dengan
benar, insya Allah akan memberikan pengaruh besar untuk melakukan kebaikan,
sedangkan menanggalkannya bisa membuka peluang besar bagi jalannya
bermacam-macam maksiat. Karena pada dasarnya tidak berhijab merupakan
kemaksiatan. Walaupun hijab itu tidak menutup kemungkinan negatif dan bukan
menjamin kebaikan seluruhnya tetapi dampak positif yang dicapai oleh wanita berhijab
jauh lebih baik dibanding wanita yang tidak berhijab. Sebab wanita yang berhijab
itu telah memperoleh sebagian dari kebaikan/keutamaan sedangkan kebaikan
lainnya harus dipenuhi dengan kewajiban lainnya. Adapun kebaikan itu muncul
dari pancaran ilmu, iman dan takwanya kepada Allah subhanahu wata’ala.
Lalu bagaimana dengan wanita yang belum
berhijab tetapi bukan karena menolak melainkan menunda-nunda dengan berbagai
alasan seperti malu masih belum terbiasa, belum siap, atau nanti saja dan
lain-lain?
Bagi saudari-saudariku yang masih
menunda-nunda berhijab hendaklah menyadari bahwasanya umur dan ajal bisa datang
kapan saja. Kita tidak tahu kapan malaikat maut mencabut nyawa kita. Apa tahun
depan? Bulan depan? Besok? Atau mungkin satu jam lagi. Ingatlah kematian yang
datangnya tiba-tiba. Hendaknya kita segera bertaubat dan mulailah menggunakan
hijab dengan benar.
Allah tidak akan menerima taubat seseorang
ketika tiba ajalnya, dan ajal itu tidak akan dapat diundurkan atau dimajukan
walau hanya sesaat. Maka dari itu berhijablah!! Karena dengan berhijab merupakan
salah satu usaha untuk menjemput hidayah Allah SWT.
MENCARI
HIDAYAH TUHAN
Hijrah
13
KATAKAN TIDAK
PADA PACARAN
وَلَا
تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan
janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatn
yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al Isra : 32).
A
|
gama
Islam adalah agama yang sempurna, Islam telah mengatur segala aspek kehidupan
manusia, sejak dalam kandungan hingga kehidupan di akhirat kelak. Salah satu
hal yang diatur dalam islam adalah adab pergaulan antara laki - laki dan
perempuan. Allah SWT memerintahkan pada laki - laki dan perempuan untuk
menjaga pandangannya dari lawan jenis serta menjaga kehormatannya. Allah SWT
juga melarang laki - laki dan perempuan yang bukan mahramnya untuk tidak berduaan
di tempat yang sepi (khalwat) serta dilarang bercampur baur antara laki - laki
dan perempuan (ikhtilat).
Namun,
perhatikanlah pergaulan anak muda pada zaman sekarang. Pergaulan diantara
mereka begitu bebas tanpa ada batasan dan sangat jauh dari nilai - nilai
pergaulan dalam Islam. Istilah yang sangat tidak asing lagi di dalam masyarakat
kita adalah "pacaran". Istilah pacaran tersebut menunjuk pada
hubungan antara laki - laki dan perempuan yang terjadi sebelum pernikahan
dengan alasan karena saling mencintai. Mereka saling
berkomunikasi, memberi perhatian, dan bahkan sampai melakukan zina. Allah
SWT telah secara tegas melarang zina, bahkan mendekati zina pun umat islam
dilarang melakukannya. Allah SWT berfirman;
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya
zina itu adalah suatu perbuatn yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isra
: 32)
Ibnu Katsir berkata mengenai ayat di atas, “Dalam ayat ini Allah
melarang hamba-Nya dari zina dan dari hal-hal yang mendekati zina, yaitu segala
hal yang menjadi sebab yang bisa mengantarkan pada zina.”
Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa pacaran adalah jalan menuju
zina. Karena hati bisa tegoda dengan kata-kata cinta. Tangan bisa berbuat nakal
dengan menyentuh pasangan yang bukan miliknya yang halal. Pandangan pun tidak
bisa ditundukkan. Dan tidak sedikit yang menempuh jalan pacaran yang terjerumus
dalam zina. Makanya dapat kita katakan, pacaran itu terlarang karena
alasan-alasan ini yang tidak bisa terbantahkan.
Sayangnya, budaya
pacaran ini seperti sudah mengakar begitu kuat di masyarakat dan seolah - olah
bukan merupakan perbuatan yang buruk dan hina. Tak sedikit orang tua yang
memperbolehkan anak - anaknya untuk menjalin hubungan haram ini dan justru
merasa bangga jika anaknya memiliki pacar. Padahal, pacaran ini merupakan
sebuah jalan yang buruk dan hanya mengantarkan pelakunya pada dosa. Dalam
berpacaran, pelakunya pasti akan melakukan zina mata, zina hati, zina lisan,
zina tangan dan terakhir berujung pada zina kehormatan. Ketika si wanita berakhir
hamil dan si lelaki tak mau bertanggung jawab , si wanita akan depresi,
melakukan aborsi dan dikucilkan oleh keluarga dan masyarakat. Jika seperti
ini, masih adakah hal positif yang diperoleh dari pacaran ? tidak sama
sekali. Luqman pernah berkata kepada anaknya, yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam
tafsirnya:
“Wahai
anakku. Hati-hatilah dengan zina. Di awal zina, selalu penuh rasa khawatir.
Ujung-ujungnya akan penuh penyesalan.” (Tafsir Al
Qur’an Al ‘Azhim, 10: 326)
Memang betul apa yang diutarakan oleh Luqman, seorang yang sholeh.
Dan itu sesuai realita. Awal zina dipenuhi rasa khawatir. Coba lihat saja apa
yang dilakukan oleh orang yang hendak berzina. Awalnya mereka berusaha tidak
terlihat orang lain. Khawatir ada yang melihat perbuatan dosa mereka.
Ujung-ujungnya dipenuhi rasa penyesalan. Karena bisa jadi si wanita hilang
kehormatannya. Akhirnya yang ada adalah rasa malu yang harus ditanggung dirinya
dan keluarganya.
Lalu, muncul pula
istilah pacaran islami, yaitu hubungan yang katanya didasarkan pada nilai-nilai
islam. Pelakunya saling mengingatkan dalam kebaikan, menyemangati ibadah dan
saling memotivasi satu sama lain. Jika ingin memperoleh motivasi, kenapa tak
minta kepada orang tua, sahabat (yang mahram tentunya), guru, atau motivator
yang handal??. Setan memang tak pernah kehilangan akal untuk menggoda manusia
agar mengikuti hawa nafsunya. Bukankah tak ada bedanya dengan pacaran
yang tidak islami ? Si wanita dan si laki - laki tetap saja rutin berkomunikasi,
hati dan pikiran dipenuhi oleh rasa cinta pada pasangan, dan beribadah pun
dengan niat yang tidak lurus lagi. Setan akan terus menggoda pasangan -
pasangan ini hingga terjerumus pada perzinahan.
Saudaraku, rasa cinta memang sebuah fitrah yang diberikan
oleh Allah SWT kepada manusia. Allah SWT pun telah menciptakan manusia secara
berpasang - pasangan. Kita hanya tinggal perlu menjaga perasaan cinta kita agar
tidak jatuh pada tempat yang salah. Dalam masa penantian ini, alangkah lebih
baik jika kita terus berusaha untuk memperbaiki dan memantaskan diri,
memperdalam ilmu agama, menjalankan pekerjaan atau pendidikan dengan baik. Tak
perlu khawatir salah memilih pasangan karena ada tahap ta'aruf untuk mengenal
calon suami/istri dan kita bisa bertanya pada teman atau kerabatnya untuk
mengetahui bagaimanakah sikap dan perilakunya. Jadi, tak ada lagi alasan untuk
berpacaran. Untuk itu katakan TIDAK pada
pacaran.
TA’ARRUF
BERBEDA DENGAN PACARAN
Islam sesungguhnya sejak awal sudah memperkenalkan istilah ta’aruf
sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan. Ta’aruf
sangat berbeda dengan pacaran. Ta`aruf adalah sesuatu yang syar`i dan memang
diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan
hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat.
Ta’aruf
diartikan sebagai perkenalan. Namun dalam praktek sehari-hari ada yang
menggunakan kata ta’aruf sebagai suatu proses sebelum ikhwan dan akhwat
menjalani pernikahan. Dalam ta’aruf, mereka saling mengenalkan keadaan diri
masing-masing, bila cocok bisa dilanjutkan ke proses khitbah dan bila tidak
maka proses akan dihentikan. Mungkin seperti itu secara sederhananya, walaupun
pada prakteknya bisa begitu rumit dan kompleks.
Sedangkan Pacaran adalah suatu hubungan dekat yang dibuat oleh
dua orang (lawan jenis) tanpa ada ikatan resmi. Biasanya pacaran dilakukan
karena adanya rasa saling suka. Dalam pacaran kadang disertai aktivitas yang
terlalu intim dan dilarang agama bahkan haram hukumnya. Dalam hubungan pacaran,
bisa jadi ada rencana pernikahan, namun kebanyakan belum memikirkan ke arah
pernikahan. Banyak orang-orang yang berniat ta’aruf namun dalam
prakteknya mereka berbuat aktivitas seperti layaknya orang pacaran. Sehingga
niat menikah pun menjadi tertunda gara-gara mereka sudah merasa dekat, dan
mereka puas dengan kedekatan itu sehingga tidak jadi memikirkan ke arah
pernikahan.
HAKIKAT CINTA
Cinta
itu sudah built in ada pada setiap orang yang lahir dimuka bumi,
sehingga tidak heran setiap ibu akan sepenuh hati mencintai anaknya. Jadi,
cinta itu memang karunia dari Sang Maha Pencipta. Menginjak Usia agak dewasa,
manusia mulai suka terhadap lawan jenisnya. Hal ini juga wajar terjadi, karena
memang penampakan cinta yang telah diberikan Allah tadi, salah satunya adalah
menyukai lawan jenis kita, pada batas yang wajar tentu saja. Sehingga cinta
adalah sesuatu yang alami, dan bukan sesuatu yang terlarang, apalagi sampai
harus dimusnahkan dari muka bumi. Tetapi harus disyukuri, karena dengan cinta
segalanya akan terasa lebih indah.
Yang
jadi masalah adalah, seberapa jauh seseorang paham akan hakikat cinta yang
sebenarnya? Banyak orang yang mempersempit makna cinta yang amat luas pada
hubungan dua manusia berlainan jenis. Rasanya lebih banyak orang pula yang
berpendapat bahwa cinta adalah masalah perasaan antara dua orang yang saling
menyukai, dengan berbagai embel-embel pembuktian berkedok cinta. Makna cinta
yang seperti ini sudah terlalu jauh dari makna cinta yang sebenarnya, karena
hakikat cinta adalah suci, dan bukan tempat untuk berbuat seenaknya, apalagi
membawa nama cinta untuk menghalalkan aktivitas yang menodai cinta itu sendiri.
Al-Baidhawi
menyatakan bahwa “cinta adalah keinginan sesorang untuk taat.” Setiap
orang yang mencintai sesuatu, pastinya ingin supaya yang dicintainya itu dapat
ia jaga dengan sepenuh hati. Jangankan lecet, berdebu saja kalau bisa jangan
sampai, karena itu kita berusaha untuk melindungi dan memberikan yang terbaik,
serta tidak akan berbuat sesuatu yang akan menyebabkan sesuatu yang kita cintai
itu rusak atau berkurang keindahannya. Begitu juga dalam hal saling mencintai
antar sesama manusia, kalau kita benar-benar mencintai seseorang kita pasti
akan selalu menjaga kehormatan dan perasaannya. Kita tidak akan berusaha untuk menyakiti,
namun akan selalu menjaga hubungan kita, agar cinta kita berbalas dan berbuah
manis. Hal ini hanya akan didapat dengan menjadikan cinta berjalan sesuai
dengan aturan Sang Pecipta cinta itu sendiri, yaitu dengan menghalalkan cinta
yang telah diatur-Nya dengan cara menikah.
MITOS YANG SALAH TENTANG PACARAN
Seiring
dengan semakin berkembangnya aktivitas pacaran, muncul berbagai mitos yang
menyertai aktivitas ini. kebanyakan mitos-mitos yang beredar adalah mitos yang
salah, namun kebanyakan para aktivis pacaran tidak menyadarinya. Beberapa mitos
tersebut diantaranya:
Pertama: Dengan pacaran kita akan tambah rajin,
berprestasi dan bersemangat. Karena pacar ditempatkan sebagai motivator. Yang
terjadi seringkali adalah sebaliknya. Waktu, pikiran, konsentrasi bahkan
materi, justru akan banyak terkuras kepada pacar. Boro-boro produktif, yang
terjadi adalah semakin terbenam dalam angan, khayalan serta kesenangan semu.
Kalaupun toh pacaran bisa membuat orang lebih produktif, maka percayalah bahwa
itu adalah motivasi yang salah dan merupakan hasutan setan semata. Kenapa? Karena itu hanya merupakan motivasi yang
temporer. Kalau sedang bad mood atau bermasalah dengan pacar, maka buyar
jugalah produktivitasnya. Motivasi yang seharusnya dimiliki seorang muslim adalah
motivasi yang muncul dari keimanan. Inilah yang telah dibuktikan oleh para
sahabat Nabi SAW. Dengan motivasi keimanan, mereka menjadi pribadi yang rajin,
bersemangat dan berprestasi.
Kedua:
Pacaran Membuat Kita Menjadi Lebih Baik. Sebagian dari kita menganggap
pacaran adalah salah satu proses kehidupan yang harus dijalani dalam rangka
pendewasaan diri. Dengan berpacaran, kita akan lebih peka terhadap orang lain
serta membuat kita manjadi lebih baik karena kita sudah diperhatikan oleh orang
lain sehingga secara tidak langsung kita akan memperhatikan penampilan kita.
Mitos inipun tidak sepenuhnya dapat dipertanggung jawabkan. Dalam menjalani
proses pacaran, kita didewasakan secara prematur, karena kita tidak pernah
menghadapi dunia yang sebenarnya. Pacaran lebih berorientasi pada kesenangan
bukan sebuah upaya untuk mengenali kehidupan riil yang akan kita hadapi dimasa
yang akan datang. Padahal, kedewasaan ditunjukkan dari kemampuan seseorang
untuk membedakan yang benar dan yang salah. Dan hal ini dapat kita lakukan
dengan memperbanyak membaca buku dan
memperdalam ilmu-ilmu agama.
Ketiga: Pacaran akan melanggengkan pernikahan. Bila
ada yang mengatakan bahwa dengan berpacaran terlebih dahulu, dan ada upaya
saling mengenal pribadi masing-masing, maka saat mereka memasuki jenjang
pernikahan, keluarga yang mereka bentuk akan lebih langgeng daripada pasangan
yang tidak pacaran telebih dahulu, maka mereka perlu melihat lebih banyak fakta
yang ada disekitarnya. Menurut fakta, tidak semua pasangan yang mengawali
langkah pernikahan mereka dengan pacaran, akan hidup langgeng. Bahkan banyak
pasangan yang telah bertahun-tahun pacaran, namun saat menikah, pernikahannya
hanya seumur jagung. Usia keluarganya tidak lebih lama dari usia pacarannya,
dan sebaliknya banyak orang yang menikah tanpa proses pacaran dapat mengecap
kebahagiaan dalam kehidupan berkeluarganya. Kenapa? Karena dalam proses
pacaran, kita hanya akan menonjolkan sifat baik kita tanpa ingin sifat buruk
kita diketahui oleh pasangan, penuh dengan kepura-puraan. Keterbukaan akan
sulit diperoleh dari dua orang yang berpacaran, sehingga pada saat mereka
menikah, dan mengetahui sifat sebenarnya dari pasangan, timbul kekecewaan yang
tidak jarang berujung pada perceraian. Berbeda dengan proses ta’arrufan, yang diharuskan
menunjukkan kelebihan serta kekurangan masing-masing pihak agar tidak terjadi
penyesalan dari salah satu atau kedua belah pihak di kemudian hari.
CARA TAUBAT DARI PACARAN
Tidak diragukan lagi bahwa taubat sesuatu yang harus bagi pelaku
dosa, apalagi dosa tersebut adalah dosa besar. Di antara hal yang membuat dosa
bisa menjadi besar adalah jika maksiat di lakukan terus menerus. Contoh di
antaranya yang menyebar di kalangan muda adalah pacaran. Berpacaran sudah jelas
terlarang karena merupakan jalan menuju zina. Karena tidak ada pacaran yang
bisa lepas dari jalan yang haram.
Dosa Mengharuskan Taubat.
Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna taubat yang tulus (taubatan
nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah, “Menghindari dosa untuk saat ini.
Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan
datang.”
Jika taubat harus memenuhi tiga syarat tersebut, maka tiga syarat
orang yang taubat dari pacaran adalah:
1. MENYESAL telah berpacaran
2. PUTUSKAN pacar sekarang juga
3. atau menempuh jalan yang halal dengan MENIKAH
Semoga Allah mudahkan kita untuk senantiasa berada dalam kebaikan
dan menjauhkan kita dari berbagai maksiat serta memberikan kita hidayah berkat
dari berbagai usaha yang telah kita lakukan. ............................... Bersambung
MENCARI
HIDAYAH TUHAN
UNTUK VERSI LENGKAPNYA SEGERA MILIKI BUKUNYA
kritik dan saran:
abdurrahimharpy@gmail.com






















Komentar
Posting Komentar